Kenapa Harus Engkau?
Kenapa harus engkau? Pertanyaan yang selalu mengebu dalam hatiku, Saat engkau harus pergi tuk selamanya. Betapa sulit aku menerimanya. Tangisan yang tak terbendung. Jiwa yang meratap. Raga yang lemah. Hati berkeping-keping merana. Aku mengenalmu sejak di rahim bunda. Aku bersama ayah mempersiapkan kedatanganmu. Tapi kini....engkau pamit tuk pergi menuju Firdaus bahagia selamanya. Aku tanya pada mama; kenapa secepat ini? Mama dalam bahasa diam, mengisahkan senang saat engkau lahir namun sakit saat engkau pergi. Aku dalam kesendirian mengharapkan wajah dan bayangmu. Cantik senyummu menusuk nubari harapan ku tuk bertemu. Aku di sini dalam gelisah dan raga membentang sunyi.....aku merindukanmu. Andai engkau tahu, betapa ayah bahagia dengan kehadiranmu. Tangisan kecilmu memecahkan kesunyian semesta, bahagia, tak ada air mata. Tapi....... Kenapa sukacita itu berubah dukacita? Kepergianmu meninggalkan sunyi bagi semesta. Tak ada tawa, tak ada gebiar sambut sang ayah.......