Postingan

Gereja yang Hidup di Tengah Umat: Kisah dari KUB St. Yosep Matani

Gambar
  Senja itu datang perlahan, seolah memberi ruang bagi hati untuk bersiap. T ak menunggu waktu lama, Bapa Pit atau Bapa Yan, telah menanti di teras depan biara, menunggu kami yang siap berangkat. Saya dan Fr. Vitus melangkah menuju tempat perjumpaan katekese APP 2026 bersama umat KUB St. Yosep Matani dengan perasaan yang sederhana, tanpa ekspektasi berlebih, hanya kerinduan untuk hadir dan mendengarkan.  Namun, siapa sangka, perjumpaan itu justru menjadi ruang yang begitu hangat dan menghidupkan.  Sejak awal, suasana terasa berbeda. Sapaan yang tulus, senyum yang tidak dibuat-buat, dan kehadiran satu sama lain yang begitu utuh menciptakan rasa kebersamaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tema yang kami dalami; Gerakan misioner Gereja dalam menghadirkan pengharapan , tidak berhenti sebagai kalimat indah, tetapi benar-benar menjelma dalam pengalaman hidup umat yang hadir. Satu per satu sharing dibagikan. Ada yang bercerita dengan suara bergetar, menahan ai...

LUPA AKAN LUKA

Gambar
  Malam itu hujan turun pelan, seakan ikut menangis bersama seorang ibu yang berlutut di sudut rumah kayu kecil mereka. Lilin kecil menyala di depan patung salib yang sudah agak pudar warnanya. Di sana, mama Rafael berdoa dengan suara yang tertahan. “Ya Tuhan… kuatkan kami…” Air matanya jatuh satu per satu ke lantai. Di balik pintu yang sedikit terbuka, seorang anak laki-laki berdiri diam. Rafael. Ia tidak berani masuk. Tidak berani juga pergi. Sejak ayahnya meninggal, rumah itu tidak pernah benar-benar terasa sama. Dulu ada tawa, ada cerita, ada pelukan hangat. Sekarang yang tersisa hanyalah keheningan… dan doa yang basah oleh air mata. Rafael adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Usianya masih terlalu muda untuk mengerti semua persoalan orang dewasa. Tetapi hidup tidak pernah menunggu seseorang menjadi siap. Masalah datang silih berganti. Bukan hanya karena kepergian ayahnya, tetapi juga karena keluarga dari pihak ayah yang perlahan menjauh. Kata-kata yang menyakitkan, s...

Jatuh Pada Ciptaan, Rindu Pada Pencipta

Gambar
  Engkau yang telah menjadikannya ada Indah, aman dan penuh gairah. Malam Kau tak biarkan jalan sendiri Selalu ada-nya beranda dalam setiap detakan menit.   Dalam kesendirianku, Mengagumi yang ada semenjak engkau titipkan pada dunia. Yang ada menawan, tak pernah lenyap dalam kesudahan waktu Sebab Engkau menghadirkannya sebagai yang ada, indah, aman dan nawan.   Aku jatuh pada ada yang Engkau ciptakan sendiri. Ada yang membuat dunia semakin puitis dengan kata Awan dihiasi dengan bujukan maut Serta dekorasi hayalan semakin menawan Menembus ujung hati.   Yang ada kau ciptakan Indah, aman dan penuh gairah Aku jatuh cinta dan lupa. Aku mabuk pada indahnya, dan nyamannya. Sekadar ciptaan telah membuatku aman. Aku jatuh. aku juga jatuh pada ciptaan manusia yang indah, aman dan nawan Pada Hedonisme. Konsumerisme. Egoisme. Materialisme. Individualisme. Utilitarianisme. Narsisme. Pragmatisem. Relativisme. Sekularisme. Aku l...

Mencintainya Salah Posisi

Gambar
  Aku mengenal Enu pada waktu yang tak pernah kami sepakati. Waktu yang datang begitu saja, lalu diam-diam menetap di dada. Ia berdarah Manggarai, tetapi lahir dan tumbuh di tanah Timor. Tanah yang keras, jujur, dan hangat seperti sorot matanya. Perjumpaan pertama kami sederhana: percakapan tentang jalan yang sama, tentang arah hidup yang tanpa sadar pernah kami lalui beriringan. Dari situlah rasa mulai bekerja pelan-pelan. Bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan sunyi yang tekun. Aku jatuh cinta tanpa izin, tanpa aba-aba, tanpa kepastian apakah ia akan jatuh ke arah yang sama. Namun aku tahu, di balik hatinya ada nama lain yang telah lebih dulu berumah. Dia yang di Sibolga, katanya. Dengan segala kenyamanan dan kenangan yang telah lebih lama memeluk Enu. Aku tahu tentang itu. Dan sejak tahu, aku mencintainya dengan rasa yang selalu kalah sebelum bertanding. Aku hanyalah pengagum yang berdiri di pinggir cerita. Menyimpan rasa dari perjumpaan singkat, menyusunnya dalam do...

Senja dan Ceritanya

Gambar
Ketika senja itu lebih menarik  dan kita hanya  bisa memandang dengan menyimpan perasaan.  Kita hanya mampu mengagumi senja Iya hanya bisa mengagumi dalam diam Karena sejatinya senja itu abadi Ia mengajarkan bahwa jejak yang tertinggal pun bisa indah, dan keheningan mampu berbicara lebih dalam daripada kata-kata Karena sejatinya perasaan itu ada Dan akan tetap ada dalam setiap cerita yang terukir Dan senja akan membuat semua abadi Namun semuanya hanya cerita tentang jejak-jejak itu Jejak yang telah membuka hati dan pikiran ini untuk tetap mengagumi dalam diam Entalah sampai kapan waktu akan berbicara bahwa kisah senja itu adalah memiliki kita bersama. "Kami ibadat dulu nanti baru lanjut" Cerita senja berakhir disini. Kupang, 1/2/26

Lilin

Gambar
Lampu-lampu kecil di sudut altar memantulkan bayangan lembut pada dinding, dan aroma lilin yang terbakar pelan mengisi udara dengan ketenangan yang sulit dijelaskan. Usai misa, ia berdiri sejenak, memeluk hening yang jatuh seperti hujan halus dalam hati. Di sudut kanan gereja, tempat lilin-lilin untuk doa menyala. Ia melangkah ke sana, perlahan, seakan setiap langkah adalah doa yang terucap tanpa suara. Ia menyalakan dua lilin pertama—untuk orangtuanya. Lalu satu lilin lagi, yang membuat napasnya terasa hangat dan degupnya lebih pelan. “Satu lilin untukmu. Untuk ujianmu hari itu. Untuk semangatmu. Untuk jalan panggilanmu yang panjang” Dan diam-diam ia menyisipkan satu doa yang hanya diketahui dirinya dan Tuhan: “Semoga suatu saat aku bertemu dia… bukan lagi Frater, tapi Pater.” Doa yang ia ulang sejak mengenalmu, doa yang ia jaga meski kadang terasa terlalu berani. Ia tahu dirinya berharap… mungkin terlalu berharap. Tapi apa boleh buat? Keyakinan itu tumbuh seperti fajar...

Pesona Jubahmu

Gambar
  Aku menyusuri bangku-bangku kosong, Di mana jejak kaki tak pernah lelah menunggu. Mencari tempat untuk bertekuk, memohon, Dalam diam, aku menapaki jalan panjang penuh kerinduan. Langkah kakiku, kuayun pasti, Menuju sujud, melangitkan doa tanpa kata. Aku seorang pengembara, Yang sedang berziarah, mengais harapan pada semesta. Mataku kupejam, tangan kuikatkan doa, Jari-jari saling menggenggam erat, tak ingin lepas. Mulutku terbungkam, namun hati berbicara, Aku seorang peziarah yang beradu harap. Aku memohon pada yang tak tampak, Berharap kelak aku selamat dari segala gemuruh dunia. Jubah putihmu menggodaku, Berpijak di tanah yang penuh doa, kini aku bertekuk dan memohon. Suatu saat, kelak, aku ingin berjubah sepertimu, Dengan segala kemuliaan yang terukir di ujung benang. Aku kagum pada pesona jubahmu, Menghadirkan ketenangan, menghapus kegelisahan. Aku pun berharap, di tahun pengharapan ini, Suatu saat nanti, harapan menjadi kenyataan, Menjadi seperti jubahmu, Menyelim...

Moke: Anugerah Allah di Antara Berkat Ekonomi dan Luka Sosial

Gambar
  Br. Sandro Jeharu, FSF. Menikmati moke -minuman tradisional khas Nusa Tenggara Timur-bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari denyut kehidupan masyarakat Manggarai, khususnya warga Desa Sanolokom, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur. Di desa ini, moke tidak hanya hadir sebagai minuman penghangat, tetapi juga sebagai simbol kehidupan, persaudaraan, dan sumber ekonomi yang menopang kesejahteraan keluarga. Moke Sebagai Anugerah dan Penopang Ekonomi Keberadaan moke di Sanolokom sungguh menjadi berkat bagi banyak keluarga. Pohon Tuak (aren), bahan dasar penghasil moke , tumbuh subur di sebagian besar lahan kebun masyarakat. Dari sanalah mereka menggantungkan harapan hidup. Mengiris tuak dan menyulingnya menjadi sopi menjadi rutinitas yang diwariskan lintas generasi—sebuah profesi yang menuntut ketelatenan, kerja keras, dan ketekunan. Bagi para petani, moke adalah “pemberian berharga dari Allah.” Hasil penjualannya menjadi salah satu sumber pendapatan utam...

Air Mata di Tanah Lorosae

Gambar
  Di bawah sinar matahari tropis yang terik, bumi Lorosae menyambut kedatangan Santo Padre Francisco dengan raga penuh menanti. Ribuan kepala berbaris rapi, sementara sorak-sorai penuh semangat memecah keheningan pagi. " Viva Papa Francisco !" seru mereka dengan suara lantang, seolah menyatukan ribuan suara menjadi satu melodi indah yang menyapa Sang Gembala. Lorosae, tanah yang pernah dipenuhi keputusasaan dan harapan yang suram, kini bagaikan taman yang sedang bermekaran. Setiap sudutnya dipenuhi warna-warni kebahagiaan. Pada tahun 1989, mereka menyambut Santo Padre Yohanes Paulus II dengan semangat yang sama. Kini, jejak spiritual itu dilanjutkan oleh Santo Padre Francisco, yang melambaikan tangan dengan penuh kasih. Bumi Lorosae menjadi saksi bisu perubahan yang menakjubkan. Tanah yang dulunya dibuang dan dilupakan kini menjadi cerminan keagungan dan kebangkitan. Saat Santo Padre Francisco melangkah di tanah ini, dunia seolah berhenti sejenak untuk menyaksikan keaja...

Diperbarui oleh Sabda: Inspirasi Claret bagi Dunia VUCA

Gambar
Fr. Darvis CMF. Bulan Kitab Suci Nasional 2025 kembali mengetuk kesadaran umat Katolik Indonesia untuk merenungkan Sabda Tuhan sebagai sumber kehidupan. Tema tahun ini, “Allah Sumber Pembaruan Hidup” , mengajak setiap orang untuk menemukan kekuatan rohani dalam ziarah kemuridannya. Tema besar ini dijabarkan dalam empat subtema, yakni: Allah sumber pembaruan relasi dengan diri sendiri, dengan sesama, dalam keluarga, dan dengan Allah sendiri. Kitab Zakaria dan Maleakhi hadir sebagai inspirasi profetis: menyerukan pertobatan, mengingatkan manusia akan keterpurukan karena dosa, sekaligus membuka ruang rahmat agar manusia kembali kepada Allah yang setia. Pembaharuan hidup yang bersumber dari Allah ini menjadi semakin relevan ketika kita menilik kehidupan Santo Antonius Maria Claret . Pendiri Kongregasi Misionaris Claretian ini adalah seorang pribadi yang menaruh hidupnya sepenuhnya pada Sabda Allah. Kitab Suci bukan hanya ia baca, melainkan ia hayati dan wartakan dengan penuh se...

Malam Pertama

Gambar
Tak biasanya dingin seperti ini. Alam seolah merajuk dengan awan hitam menggantung di angkasa. Tak ada bintang yang biasa menemaniku di malam-malam panjang di warung Bibi Umi. Hanya rintik-rintik hujan yang berbisik, seakan hendak jatuh lebih deras. Di tengah keheningan, wajah seorang gadis berkacamata kembali muncul di benakku. Wajahnya kulihat Senin lalu di pintu masuk kelas—tidak asing, meski sudah lama aku melupakannya. Seperti papan mading yang menempelkan kembali memori lama, aku tersadar: aku pernah mengenalnya. “Selamat siang, Nana. Nana Hendra, kan?” Suara itu menyergapku siang tadi, di depan mading kampus. Suara yang seketika menyeretku ke masa lalu. “Aku Loli, anak Bapa Desa. Nana masih ingat saya?” Nama itu menyalakan percikan nostalgia. Tentu, aku mengenalnya. Gadis yang dulu diam-diam kucari dengan alasan palsu pada ibuku—kataku hendak ke rumah Oma di kampung sebelah, padahal hanya ingin bertemu anak Bapa Desa.   Gadis yang dulu kuimpikan sebagai belahan j...

Surat Singkat di Ujung Senja

Gambar
  Masih terpendam dalam sanubari, sekumpulan pertanyaan yang tak mampu dijawab oleh siapa pun, meski tak satupun dari mereka yang rumit dan tak bisa dimengerti… Pertanyaan itu terus berputar, seperti doa yang tiada henti, menjelma menjadi refleksi yang tak pernah usai. Ia menjadi penutup setiap halaman dalam buku harianku yang penuh cerita. Mengapa harus aku? Mengapa aku? Mengapa aku? Pertanyaan ini terus mengalun, menari-nari di telingaku, setiap kali aku menutup malam, menutup kisah dalam catatan kecilku. Doa-doa terus mengiringi perjalanan kita, tentang panggilan yang kita sambut, tentang semangat yang tak pernah padam untuk tetap setia pada jalan hidup yang telah kita pilih. Malam ini, aku titipkan seuntai doa dengan namamu, dan sebaris kata terima kasih untuk dirimu yang telah menemani sejauh ini. Kamu yang selalu ada, mendukung, mengingatkan untuk terus semangat,  menjaga diri,  menjaga kesehatan. Meski kata-kata ...

Yang Tulus-Berjubah

Gambar
  Kaki ini melangkah perlahan, menyusuri anak tangga di depan Gereja tua yang penuh kenangan. Setiap pijakan terasa seperti mengetuk pintu waktu, menggiringku pada masa lalu yang tak pernah pergi. Tak ada jalan lain—hanya anak tangga itu, saksi bisu perjalanan batin yang tak pernah aku bayangkan akan berujung di sini. Di tengah gerimis yang lembut, aku melihatnya. Dia. Aku hanya seorang yang menanti waktu kapan bisa bisa berjumpah, dan akhirnya terjawab sudah. Kini penantian panjang tentang waktu, terjawab dalam pertemuan yang singkat di balik rintik-rintik hujan sore. Aku yang pertama menangkap bayangnya sore itu, namun dia tidak menyadari keberadaanku. Hujan turun perlahan, menyapu tanah dengan kelembutan yang menggetarkan jiwa. Hujan menjadi payung langit bagi perjumpaan yang begitu singkat, namun memahat kenangan yang tak akan terhapus. Hatiku berdegup tak menentu. Aku tahu dia pernah tersakiti oleh Renya—sahabatku yang pernah begitu dekat dengannya, lalu pergi begitu saj...

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru

Gambar
  Refleksi atas teks Lukas 9:28b-36 Beberapa waktu lalu, di beranda media sosial—Facebook, TikTok, hingga status WhatsApp—saya melihat potongan-potongan kisah haru: para guru yang dinyatakan lulus P3K akhirnya harus pindah tugas ke sekolah yang baru. Wajah-wajah bahagia sekaligus berat hati tampak dalam video dan foto perpisahan mereka. Mereka menangis bukan hanya karena senang telah lolos dari penantian panjang, tapi juga karena harus meninggalkan tempat yang sudah seperti rumah sendiri. Di tempat lama, mereka telah mencurahkan cinta, bertumbuh dalam pelayanan, mengenal murid-murid dan rekan kerja layaknya keluarga. Kini, panggilan baru membawa mereka ke tempat yang belum dikenal. Ada yang menyambutnya dengan sukacita, ada pula yang berangkat dengan air mata. Semua merasakan perasaan yang sama: berat meninggalkan kenyamanan yang lama, tetapi mau tidak mau harus pergi ke tempat yang baru. Saya pun pernah mengalami hal serupa. Dalam kegiatan live in sebagai frater di sebuah...