Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru

Refleksi atas teks Lukas 9:28b-36
Beberapa waktu lalu, di beranda media sosial—Facebook, TikTok, hingga status WhatsApp—saya melihat potongan-potongan kisah haru: para guru yang dinyatakan lulus P3K akhirnya harus pindah tugas ke sekolah yang baru. Wajah-wajah bahagia sekaligus berat hati tampak dalam video dan foto perpisahan mereka. Mereka menangis bukan hanya karena senang telah lolos dari penantian panjang, tapi juga karena harus meninggalkan tempat yang sudah seperti rumah sendiri.
Di tempat lama, mereka telah mencurahkan cinta, bertumbuh dalam pelayanan, mengenal murid-murid dan rekan kerja layaknya keluarga. Kini, panggilan baru membawa mereka ke tempat yang belum dikenal. Ada yang menyambutnya dengan sukacita, ada pula yang berangkat dengan air mata. Semua merasakan perasaan yang sama: berat meninggalkan kenyamanan yang lama, tetapi mau tidak mau harus pergi ke tempat yang baru.
Saya pun pernah mengalami hal serupa. Dalam kegiatan live in sebagai frater di sebuah paroki, saya harus meninggalkan ritme kenyamanan di komunitas. Di komunitas, segala kebutuhan saya tersedia. Tetapi bagaimana di tempat live in, saya bertanya-tanya: Apa yang bisa saya buat di sana? Apakah saya akan diterima? Mampukah saya menyatu dengan umat? Ternyata, justru di sanalah saya menemukan wajah Allah yang hidup, dalam kesederhanaan umat, dalam keheningan doa bersama mereka, dalam senyum-senyum kecil yang menyambut kami dengan hangat.
Bacaan Injil hari ini (Lukas 9:28b-36) menampilkan peristiwa tentang Yesus dimuliakan di atas gunung (Peristiwa Transfigurasi). Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus naik ke atas gunung. Di hadapan tiga murid-Nya, Yesus berubah rupa—wajah-Nya bersinar dan pakaian-Nya berkilau. Ini bukan hanya penampakan kemuliaan ilahi, tetapi juga peneguhan atas identitas Yesus sebagai Mesias yang harus menderita.
Pada kesempatan ini saya ingin merefleksikan bagian yang lain dari teks tersebut. Bukan pada perubahan rupa dari Yesus, tetapi pengalaman para murid atas peristiwa itu. Di sana, ketiga murid menyaksikan kemuliaan yang luar biasa: wajah Yesus berubah, pakaian-Nya bercahaya, dan dua tokoh besar—Musa dan Elia—menampakkan diri. Begitu agung dan menakjubkan hingga Petrus spontan berkata, "Guru, betapa bahagianya kami berada di sini!" Ia bahkan mengusulkan untuk mendirikan tiga kemah—supaya mereka bisa “tetap tinggal” dalam pengalaman spiritual yang nyaman dan mulia itu.
Namun, Yesus tidak mengizinkan mereka menetap di puncak itu. Mereka harus turun. Karena jalan Yesus bukan berhenti pada kemuliaan gunung, tapi berjalan menuju Yerusalem, menuju salib, dan akhirnya kebangkitan. Kenyamanan itu baik, tetapi bukan tempat tinggal selamanya. Allah kadang memanggil kita meninggalkan gunung kemuliaan—tempat nyaman kita—untuk masuk ke dalam realitas hidup yang penuh tantangan, tapi juga lebih dalam dan lebih bermakna.
Kisah para guru yang harus pindah yang saya sampaikan diawal, dan pengalaman saya sebagai frater yang harus meninggalkan kenyaman di komunitas untuk tinggal bersama umat, dapat mengerti pula dalam kacamata para murid yang harus turun dari gunung -tempat pengalaman spiritual yang nyaman dan mulia itu menuju salib: kita semua dipanggil untuk berani memulai sesuatu yang baru. Karena seringkali, justru di tempat baru itulah Tuhan menyatakan kasih-Nya secara lebih nyata.
Pengalaman saya di tempat live in demikian. Awalnya keraguan yang ada dalam diri saya begitu mengganggu, namun ketika saya berada dan hidup bersama umat, disana saya merasakan sukacita yang sangat luar biasa. Ketakutan yang awalnya mendiami dalam diri saya, perlahan menghilang. Tempat baru mengajarkan saya sesuatu yang baru. Banyak pengalaman yang saya peroleh dari sana. Jangan pernah takut untuk berlangkah. Segala kekwatiran kita akan terjawab, ketika kita jalan bersama Sang Guru sejati, yakni Kristus. Seandainya Para murid tidak turun dari Gunung kemuliaan itu, mereka dan kita pasti tidak mengalami kebangkitan Tuhan, walaupun dilalui dengan air mata dan siksaan Salib. Di ujung jalan yang gelap itu, ada sinar yang menanti.
nana_darvis
Kupang, 6 Agustus 2025
Komentar