Moke: Anugerah Allah di Antara Berkat Ekonomi dan Luka Sosial
![]() |
| Br. Sandro Jeharu, FSF. |
Menikmati moke-minuman
tradisional khas Nusa Tenggara Timur-bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian
dari denyut kehidupan masyarakat Manggarai, khususnya warga Desa Sanolokom,
Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur. Di desa ini, moke tidak
hanya hadir sebagai minuman penghangat, tetapi juga sebagai simbol kehidupan,
persaudaraan, dan sumber ekonomi yang menopang kesejahteraan keluarga.
Moke Sebagai Anugerah dan Penopang
Ekonomi
Keberadaan moke di Sanolokom
sungguh menjadi berkat bagi banyak keluarga. Pohon Tuak (aren), bahan
dasar penghasil moke, tumbuh subur di sebagian besar lahan kebun
masyarakat. Dari sanalah mereka menggantungkan harapan hidup. Mengiris tuak
dan menyulingnya menjadi sopi menjadi rutinitas yang diwariskan lintas
generasi—sebuah profesi yang menuntut ketelatenan, kerja keras, dan ketekunan.
Bagi para petani, moke adalah
“pemberian berharga dari Allah.” Hasil penjualannya menjadi salah satu sumber
pendapatan utama yang mampu menopang kebutuhan hidup harian, biaya pendidikan
anak-anak, hingga pembangunan rumah. Tak heran, banyak warga mengawali minggu
mereka dengan rasa syukur. Setiap hari Minggu, para produsen moke
berbondong-bondong ke gereja mengikuti perayaan Ekaristi-sebuah ungkapan iman
dan terima kasih atas kasih Allah yang hadir dalam berkat sederhana bernama moke.
![]() |
| Moke Putih |
Dampak Buruk di Balik Kenikmatan
Namun, di balik nilai ekonomi dan makna
spiritual itu, moke juga menyimpan sisi gelap yang tak bisa diabaikan.
Tak sedikit warga yang kehilangan kendali dalam menikmati moke. Apa yang
semula menjadi sarana kebersamaan dan sukacita, berubah menjadi sumber
penderitaan karena disalahgunakan untuk memuaskan kecanduan.
Kecanduan moke membawa luka
sosial: gangguan kesehatan, konflik rumah tangga, bahkan keretakan relasi
sosial di antara sesama warga. Banyak ibu di Sanolokom harus menahan sabar
menghadapi suami yang larut dalam mabuk, sementara anak-anak menjadi saksi bisu
dari dampak buruk kebiasaan yang tak terkontrol itu. Walau jarang berujung pada
kekerasan atau diskriminasi, kegaduhan akibat moke seringkali
menciptakan ketegangan di tengah kehidupan keluarga dan masyarakat.
Suara Kitab Suci dan Panggilan
Kebijaksanaan
Dalam konteks ini, sabda Kitab Suci
menggemakan peringatan yang relevan:
“Celakalah mereka yang bangun pagi-pagi
dan terus mencari minuman keras, dan duduk-duduk sampai malam hari, sedang
badannya dihangatkan anggur” (Yesaya 5:11).
Ayat ini bukan sekadar larangan,
melainkan ajakan untuk menata ulang cara pandang terhadap moke. Moke
bukanlah racun, tetapi juga bukan ilah yang harus disembah. Ia adalah ciptaan
Allah yang mengandung nilai baik, bila digunakan dengan bijak. Celaka bukan
karena adanya moke, melainkan karena kurangnya kesadaran manusia dalam
mengelola anugerah tersebut.
![]() |
| Proses masak Moke menjadi Sopi |
Antara Syukur dan
Tanggung Jawab
Sebagian orang memang melihat moke
sebagai sumber kegelisahan dan penyebab kekacauan sosial. Namun bagi para
produsen dan petani, moke tetaplah anugerah yang patut dijaga. Mereka
percaya bahwa yang perlu diubah bukanlah keberadaan moke, melainkan cara
manusia memperlakukannya. Kebijaksanaan dan pengendalian diri adalah kunci agar
moke tetap menjadi berkat, bukan kutuk. Karena itu, masyarakat Sanolokom
diajak untuk menempatkan moke dalam terang rencana Allah: bukan sekadar
komoditas ekonomi, melainkan juga sarana untuk menguji kedewasaan iman dan
tanggung jawab moral. Dengan demikian, moke dapat terus menjadi tanda
syukur, penopang ekonomi, dan warisan budaya yang membawa sukacita-bukan
penderitaan.

.jpg)

Komentar