Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Jatuh Cinta Dengan Milik Tuhan

Gambar
  Aku, yang tak pernah bersahabat dengan perjumpaan, kini terpaksa menghadapi denyut aneh di hatiku. Khatulistiwa rasa, tempat di mana senyumnya menghangatkan jiwa, meski dia hadir dalam misteri. Ini adalah sebuah pelayaran tanpa kompas, di antara kebencian dan kerinduan. Ada rasa yang terjalin di antara dua hati, tak bisa kupungkiri. Meski pernah ada jejak kehilangan yang menggores luka, dia datang membawa seberkas harapan. Namun, benarkah semua laki-laki itu sama? Dengan senyum manis dan langkah ringan, ia melintas di hidupku, mengingatkan pada semua rasa yang pernah menyakitkan. Tapi tidak, dia bukan sekadar bayangan. Dia adalah misteri yang membangkitkan rindu mendalam, seakan Tuhan menaruhnya di sini untuk menyembuhkan segala duka. Kisahku, yang terjalin dalam kehadirannya, terhampar dalam narasi waktu. Di antara riuh dan gemuruh, aku menemukan kenyamanan. Dalam percakapan yang ringan, aku ceria, seolah dunia milik kami berdua. Satu kebetulan indah: kami berdua merangkai k...

Doa Enu

Gambar
  Malam begitu sepi. Tidak ada suara yang menemani waktu malam ini. Hanya seberkas cahaya yang muncul di balik pohon angsono yang daunya gugur di bulan Juli. Butir-butir rosario ku genggam erat, menghiasi setiap tapak kakiku menuju gua Maria. Ini adalah kebiasaanku—kami para anak seminari—setelah makan malam, kami mengambil waktu pribadi untuk mendaraskan doa rosario. Kami percaya bahwa kekuatan dari Sang Bunda mampu menjawab setiap kegelisahan hidup. Malam seolah-olah bercerita pada angin tentang anak manusia yang terus berharap dan bertekuk. Aku merasakannya. Setiap langkahku seperti mengetuk pintu langit, seolah menyampaikan bahwa ada seseorang di bumi yang datang membawa gundah. Malam berbisik lembut, menyambutku, menenangkan. Kata-kata Kitab Suci terlintas begitu nyata: “Datanglah kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan.” Langkahku terhenti saat sampai di depan gua. Nyala lilin-lilin tak pernah padam, memantulkan cahaya yang membuat waj...

Nunuh Amasat; Kabar Yang Hilang

Gambar
Malam kembali mengetuk jendela, membawa dingin yang menceritakan kehilangan— sejak kau pergi minggu lalu, dan tak satu pun kabar menyusul langkahmu. Katamu: "Aku berada di Nunuh Amasat, tempat sunyi bersemayam. Di sana, hanya detik-detik waktu yang mendesah seperti Firdaus yang pelan-pelan dinanti." Tapi malam semakin dingin, dan kabarmu membeku bersama embun yang jatuh tanpa suara. Katamu lagi: "Sabarlah sebentar, aku akan kembali..." Tapi sebentar itu kini terasa seperti musim yang tak pernah datang kembali. Aku duduk di ruang tunggu— menanti pesan yang tak kunjung tiba. Hanya malam yang berbisik lembut, "Pergilah... kini ia semakin menjauh." Di atas Nunuh Amasat, kau membuka buku harianmu— dan menulis jejak-jejak sunyi dengan tangan yang menari di antara waktu. Pesanmu hanya satu, "Aku akan kembali. Sabarlah sebentar." Namun malam pun berlalu, dan katamu, dan janjimu, sepertinya hanyut, bersama derasnya Kali Noelmina— tempat di m...

Surat (suci) Lee-wuun

Gambar
Tak terdengar suara jangkrik diujung waktu. Sunyi senyap mendiami jiwa para penanti malaikat. Kini tepatnya 20 Juli 96, suara tangisan bayi munggil terdengar di semesta. Sorak riang para penanti, disiap lampin membalut tubuh. Ia cantik bak putri raja, nan munggil. Sunyi itu terbongkar suara riak anak manusia yang menjelajahi semesta. Semesta sambut gembira, menggema di seluruh angkasa tanah Timor. Bukan kebetulan, namun kepastian adalah bahagia menyambutnya. Dibalik tirai yang hampir kusam itu, wajah sang bunda tersenyum lega menghilang perih. Disamping Bunda, tampak wajah ayah membalut senyum lagi haru. “ia cantik seperti bundanya”, kata ayah coba mengoda sang bunda. Dibalik tirai itu kebahagiaan tak terukur dan tak terselami oleh kata bahasa apapun. Ia sang malaikat yang belum tahu dan mengerti sebuah kehadiran, hanya sajak-sajak bunyi yang tak dapat di mengerti oleh semesta. Eaeaeaeaeaeaeaeaeaea……suara itu membubung dikala ia lapar. **** Waktu berlalu begitu cepat. Tak t...

Tuhan Tak Pernah Gagal

Gambar
   (Mungkin anda pernah gagal memilih dan mencintai, Namun Tuhan tidak pernah gagal memilih dan mencintai anda) Dalam linimasa kehidupan, ruang dan waktu menjalin benang-benang peristiwa—masa lalu yang telah pergi, masa kini yang sedang dibentuk, dan masa depan yang menanti untuk dijalani. Di antaranya, ada “ proses menjadi” , yang sering tak mudah walau kadang kala diterpa angin dan membuat hidup terombang-ambing. Namun semuanya itu bukan sia-sia—melainkan tenunan makna yang suatu hari akan disebut: sejarah hidup. Sejarah hidup itu berasal dari DIA dan bermuara pada DIA. Kadang aku tak seirama pada jalanNya, namun Ia tetap setia, menulis hidupku dalam bingkai pengharapan. Satu demi satu peristiwa dijahit, meski tak selalu rapi, bahkan sering patah-patah seperti huruf-huruf pada halaman buku yang akan disebut: perjalanan seorang murid. Memang patut aku akui bahwa jalan bersama Tuhan akan menjadi indah ketika diuji, ditantang dan akhirnya disertai air mata yang menjadi ...

Terima Kasih, Batuna

Gambar
Di ujung senja, langkahku perlahan, meninggalkan jejak di tanah yang diam— Battuna, tempat hati pernah tenang, di antara doa dan tawa yang tak pernah padam. Tak mudah mengucap salam perpisahan, ketika tiap wajah menyimpan kasih, setiap tangan menjabat dengan keikhlasan, dan tiap pagi disambut damai yang bersih. Kopi manis buatan mama Maria, Mengusir dingin, menghangatkan badan. Sopi dalam seloki, bahkan satu galon disiap, mengikat cerita, mengusir sunyi yang pilu. Diantara umat yang memeluk dengan jiwa, mengajariku arti rumah tanpa tembok dan pagar, di setiap misa, di setiap peluh kerja, ada cinta yang tak pernah ingin ku tinggal. Setiap perjumpaan di sini adalah syair, mengalir dalam makna yang tak bisa diseka oleh waktu. Di Battuna, jiwa seakan menemukan pelabuhannya, raga bertemu raga—bukan untuk singgah, tapi untuk tinggal, walau semesta terus berubah. Dan di tengah sunyi ini, K(s)opi menjadi sahabat yang paling setia, hangatnya menyentuh lebih dalam  dari sekadar c...

Battuna dan Dinginnya

Gambar
Dalam Dingin Battuna, Aku Pernah Ada Kabut pagi menyelubungi semesta Batuna, menyulam sunyi di tiap jengkal cakrawala. Dingin menyelinap pelan ke sela-sela nadi, menyatu dengan raga yang menapak pelatar bebatu— jejak yang diam-diam menyimpan rindu paling syahdu. Setiap perjumpaan di sini adalah syair, mengalir dalam makna yang tak bisa diseka oleh waktu. Di Battuna, jiwa seakan menemukan pelabuhannya, raga bertemu raga—bukan untuk singgah, tapi untuk tinggal, walau semesta terus berubah. Dan di tengah sunyi ini, K(s)opi menjadi sahabat yang paling setia, hangatnya menyentuh lebih dalam dari sekadar cangkir dan aroma. Ia tak pernah berlabuh di hati lain, selalu pulang pada rindu yang sama—pada kita yang pernah bicara dalam diam. Kopi dan sopi di Battuna—dua penjaga nostalgia, menyimpan sajak-sajak tentang aku yang pernah ada, menikmati gigil pagi dan sunyi yang abadi, di bukit Battuna… tempat kenangan enggan pergi. Lopo Gereja Paroki Sta. Maria Immaculata Battuna, 5 Juli 202...