Tuhan Tak Pernah Gagal

 

 (Mungkin anda pernah gagal memilih dan mencintai, Namun Tuhan tidak pernah gagal memilih dan mencintai anda)

Dalam linimasa kehidupan, ruang dan waktu menjalin benang-benang peristiwa—masa lalu yang telah pergi, masa kini yang sedang dibentuk, dan masa depan yang menanti untuk dijalani.
Di antaranya, ada “proses menjadi”, yang sering tak mudah walau kadang kala diterpa angin dan membuat hidup terombang-ambing. Namun semuanya itu bukan sia-sia—melainkan tenunan makna yang suatu hari akan disebut: sejarah hidup.

Sejarah hidup itu berasal dari DIA dan bermuara pada DIA. Kadang aku tak seirama pada jalanNya, namun Ia tetap setia, menulis hidupku dalam bingkai pengharapan. Satu demi satu peristiwa dijahit, meski tak selalu rapi, bahkan sering patah-patah seperti huruf-huruf pada halaman buku yang akan disebut: perjalanan seorang murid.

Memang patut aku akui bahwa jalan bersama Tuhan akan menjadi indah ketika diuji, ditantang dan akhirnya disertai air mata yang menjadi saksi dari sebuah perjalanan. Ia tahu, dalam diamku, ada tangis yang tak bersuara.

Tak dapat aku pungkiri bahwa didepan banyak orang terlihat tegar, kuat, dan tanpa krisis, namun dibalik pintu kamar pribadi dan dihadapan sakramen Mahakudus yang sunyi, ada air mata yang membicarakan keadaan. sebuah perjalanan yang menuntun iman yang kuat sembari terus bertanya; apakah aku bertahan?

Pertanyaan ini menyelinap dalam setiap keheningan doa. Namun jawabannya hadir dalam keheningan yang sama—lewat tatapan Bunda Maria. Maria... bukan sekadar nama. Ia adalah rahim harapan, yang menyimpan segalanya dalam hati—meski sebilah pedang menembus jantungnya.

Di tengah jalan yang tak beraspal, di mana kerikil-kerikil tajam menggores telapak harapanku,
aku bertanya: Mengapa aku masih harus bertahan?” Dan di sanubari terdengar suara para murid: “Tuhan, kepada siapa lagi kami akan pergi?”

Perjalanan ini memang tak selalu mudah. Ada jatuh. Ada bangun. Namun semua itu bukan kehancuran, melainkan proses menjadi manusia seutuhnya—yang tahu bagaimana menangis,
yang belajar bertahan bukan karena kuat, tetapi karena Allah bekerja dalam dirinya.
(Yohanes 14:10). Seperti sang Guru bertekun dalam doa, dan dengan berharap agar segalanya berlalu daripadaku. Jawaban Sang guru menyentuh hati; Mengapa kamu takut?” (Matius 8:23). Dan dalam kerendahan hati, aku belajar menjawab seperti Maria:
“Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Ah, betapa bahagianya aku menempuh jalan ini— meski harus kembali ke Yerusalem, tempat salib menanti, namun juga tempat sukacita kebangkitan dimulai.

Maria tak hanya menjadi penolong; ia adalah teman peziarahan. Bersama dia, setiap langkah menjadi lebih bermakna. Seperti Elisabet yang berseru dalam keharuan: “Siapakah aku ini, sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

Sebelum sampai kepada Yesus, aku berjalan bersama Maria— mengenangnya sebagai kenangan suci, sebagai seorang Ibu yang diserahkan di kaki salib:
“Inilah Ibumu... Inilah anakmu”. Sebuah warisan cinta yang tak lapuk oleh waktu.

Bersama Maria, para murid menelusuri Via Dolorosa— namun di balik luka dan duka,
mereka menemukan kekuatan untuk tetap melangkah menuju pagi kebangkitan yang mulia.

Seperti Yusuf—yang sempat dijual, dibuang, dan dilupakan— aku pun kadang merasa tak berharga. Namun seperti Yusuf, aku belajar bahwa Tuhan menyiapkan segala sesuatu dengan tujuan yang besar. Bahwa ketika manusia gagal memilih dan mencintai, namun Tuhan tidak pernah gagal.

Di akhir perjalananku, aku berseru dalam syukur: Aku beryukur kepadaMU, karena Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil, dan itulah yang berkenan kepadaMu” (Lukas 10:21). Dan bersama para murid, hatiku berseru: Guru, alangkah bahagianya kami berada di tempat ini” (Mat. 17:4).

Sebab bersama Tuhan, setiap luka menjadi pelajaran, setiap air mata menjadi doa,
dan setiap langkah—betapapun beratnya—menjadi bagian dari kisah indah yang disebut:
perjalanan seorang murid. Tuhan tidak pernah salah memilih dan mencintai.

 

(Remah-remah Ret-ret Pembaruan Kaul 2025)

NANA DARVIS

Claretian Misionaris

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musa: Pemimpin Yang Sejati

Moke: Anugerah Allah di Antara Berkat Ekonomi dan Luka Sosial

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru