Musa: Pemimpin Yang Sejati


Sebuah Refleksi atas teks Bilangan 11:4b-15

Di setiap momen menjelang pemilu atau pilkada, tidak se dikit orang berbondong-bondong mencalonkan diri untuk merebut kekuasaan sebagai pemimpin. Pada saat itu pula, berbagai gagasan diutarakan dan dilempar kepada para pemilih dengan daya tarik yang kuat, dipoles dengan kata-kata memesona. Janji-janji manis tidak pernah absen dari setiap mulut para kandidat.

Tak kalah menarik, setiap pasangan calon (paslon) membuat poster-poster besar dengan slogan-slogan yang memukau, seperti “Siap kerja bersama rakyat” atau “Mendengarkan suara rakyat.” Begitu indah bait-bait narasi itu hingga rakyat pun kebingungan harus memilih siapa, sebab semua janji terdengar mengesankan.

Setelah pemilihan usai, bersyukurlah bagi yang menang, dan tersungkurlah yang kalah. Namun kerap kali, saat seseorang resmi menjadi pemimpin, narasi-narasi indah yang dulu diperdengarkan perlahan memudar. Rakyat mulai lelah menagih janji yang tak kunjung ditepati. Tak jarang kita melihat di media sosial dan media lainnya, munculnya demonstrasi demi demonstrasi, menagih janji lama, serta menolak kebijakan-kebijakan yang tidak sejalan dengan harapan rakyat. Saat itulah seorang pemimpin benar-benar diuji: apakah ia mampu menghadapi rakyat dengan hati yang tenang, atau justru gegabah menggunakan kekuasaan yang dimiliki?  Patut kita akui pula tak semua pemimpin demikian, tapi pada kenyataannya masih banyak yang belum beres.

Bagi saya, Tipe seorang pemimpin yang patut diteladani dapat dipelajari dari pribadi Musa. Dalam Bilangan 11:4b–15, ketika bangsa Israel datang kepadanya dengan keluhan dan ratapan karena merindukan makanan seperti di Mesir, Musa merasa kewalahan dan hampir putus asa. Bahkan ia berkata kepada Tuhan: “Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku.” (Bil. 11:14)

Sebagai pemimpin, Musa memikul tanggung jawab besar atas kehidupan seluruh bangsa Israel. Ia bukanlah sosok yang sempurna, namun ia jujur kepada Allah dalam keletihannya. Musa tidak menyembunyikan kelemahan, melainkan mengungkapkannya kepada Tuhan. Kepemimpinan sejati bukan hanya soal kuasa atau pengaruh, melainkan tentang memikul beban dan tanggung jawab bagi orang-orang yang dipimpin, bahkan ketika mereka tidak bersyukur dan terus mengeluh.

Dari Musa, saya belajar tentang makna kepemimpinan yang sejati. Keluh kesah kepada Allah jauh lebih ampuh daripada janji manis yang mudah hilang ditelan waktu. Berserah kepada Tuhan harus menjadi sandaran utama seorang pemimpin—membiarkan Allah bekerja menurut kehendak-Nya. Menjadi pemimpin berarti siap menghadapi tantangan, namun juga sadar akan batas diri, serta bersedia meminta pertolongan. Dalam kerapuhan Musa, saya diingatkan bahwa pemimpin pun tetaplah manusia. Justru dalam pengakuan atas kelemahan, seorang pemimpin bisa menemukan kekuatan sejati—yakni dengan bersandar kepada Tuhan dan membuka diri untuk bekerja bersama orang lain.

Menjadi pemimpin bukan semata-mata tentang menduduki jabatan tinggi, memimpin sebuah institusi, atau memberi perintah kepada banyak orang. Kepemimpinan sejati dimulai dari hal yang paling sederhana—memimpin diri sendiri. Ketika seseorang menghadirkan ketenangan dalam keberadaannya, menyebarkan kasih dalam tindakan-tindakannya, dan membangun persaudaraan dalam relasi dengan sesama—di situlah wibawa seorang pemimpin tumbuh, bukan karena jabatan, tetapi karena keteladanan. Itulah inti dari kepemimpinan: bukan soal kuasa atas orang lain, tapi tanggung jawab atas diri sendiri, agar kehadiran kita membawa terang bagi dunia di sekitar kita.

 

 

Kupang, 4 Agustus 2025

nana_darvis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Moke: Anugerah Allah di Antara Berkat Ekonomi dan Luka Sosial

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru