Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Malam Pertama

Gambar
Tak biasanya dingin seperti ini. Alam seolah merajuk dengan awan hitam menggantung di angkasa. Tak ada bintang yang biasa menemaniku di malam-malam panjang di warung Bibi Umi. Hanya rintik-rintik hujan yang berbisik, seakan hendak jatuh lebih deras. Di tengah keheningan, wajah seorang gadis berkacamata kembali muncul di benakku. Wajahnya kulihat Senin lalu di pintu masuk kelas—tidak asing, meski sudah lama aku melupakannya. Seperti papan mading yang menempelkan kembali memori lama, aku tersadar: aku pernah mengenalnya. “Selamat siang, Nana. Nana Hendra, kan?” Suara itu menyergapku siang tadi, di depan mading kampus. Suara yang seketika menyeretku ke masa lalu. “Aku Loli, anak Bapa Desa. Nana masih ingat saya?” Nama itu menyalakan percikan nostalgia. Tentu, aku mengenalnya. Gadis yang dulu diam-diam kucari dengan alasan palsu pada ibuku—kataku hendak ke rumah Oma di kampung sebelah, padahal hanya ingin bertemu anak Bapa Desa.   Gadis yang dulu kuimpikan sebagai belahan j...

Surat Singkat di Ujung Senja

Gambar
  Masih terpendam dalam sanubari, sekumpulan pertanyaan yang tak mampu dijawab oleh siapa pun, meski tak satupun dari mereka yang rumit dan tak bisa dimengerti… Pertanyaan itu terus berputar, seperti doa yang tiada henti, menjelma menjadi refleksi yang tak pernah usai. Ia menjadi penutup setiap halaman dalam buku harianku yang penuh cerita. Mengapa harus aku? Mengapa aku? Mengapa aku? Pertanyaan ini terus mengalun, menari-nari di telingaku, setiap kali aku menutup malam, menutup kisah dalam catatan kecilku. Doa-doa terus mengiringi perjalanan kita, tentang panggilan yang kita sambut, tentang semangat yang tak pernah padam untuk tetap setia pada jalan hidup yang telah kita pilih. Malam ini, aku titipkan seuntai doa dengan namamu, dan sebaris kata terima kasih untuk dirimu yang telah menemani sejauh ini. Kamu yang selalu ada, mendukung, mengingatkan untuk terus semangat,  menjaga diri,  menjaga kesehatan. Meski kata-kata ...

Yang Tulus-Berjubah

Gambar
  Kaki ini melangkah perlahan, menyusuri anak tangga di depan Gereja tua yang penuh kenangan. Setiap pijakan terasa seperti mengetuk pintu waktu, menggiringku pada masa lalu yang tak pernah pergi. Tak ada jalan lain—hanya anak tangga itu, saksi bisu perjalanan batin yang tak pernah aku bayangkan akan berujung di sini. Di tengah gerimis yang lembut, aku melihatnya. Dia. Aku hanya seorang yang menanti waktu kapan bisa bisa berjumpah, dan akhirnya terjawab sudah. Kini penantian panjang tentang waktu, terjawab dalam pertemuan yang singkat di balik rintik-rintik hujan sore. Aku yang pertama menangkap bayangnya sore itu, namun dia tidak menyadari keberadaanku. Hujan turun perlahan, menyapu tanah dengan kelembutan yang menggetarkan jiwa. Hujan menjadi payung langit bagi perjumpaan yang begitu singkat, namun memahat kenangan yang tak akan terhapus. Hatiku berdegup tak menentu. Aku tahu dia pernah tersakiti oleh Renya—sahabatku yang pernah begitu dekat dengannya, lalu pergi begitu saj...

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru

Gambar
  Refleksi atas teks Lukas 9:28b-36 Beberapa waktu lalu, di beranda media sosial—Facebook, TikTok, hingga status WhatsApp—saya melihat potongan-potongan kisah haru: para guru yang dinyatakan lulus P3K akhirnya harus pindah tugas ke sekolah yang baru. Wajah-wajah bahagia sekaligus berat hati tampak dalam video dan foto perpisahan mereka. Mereka menangis bukan hanya karena senang telah lolos dari penantian panjang, tapi juga karena harus meninggalkan tempat yang sudah seperti rumah sendiri. Di tempat lama, mereka telah mencurahkan cinta, bertumbuh dalam pelayanan, mengenal murid-murid dan rekan kerja layaknya keluarga. Kini, panggilan baru membawa mereka ke tempat yang belum dikenal. Ada yang menyambutnya dengan sukacita, ada pula yang berangkat dengan air mata. Semua merasakan perasaan yang sama: berat meninggalkan kenyamanan yang lama, tetapi mau tidak mau harus pergi ke tempat yang baru. Saya pun pernah mengalami hal serupa. Dalam kegiatan live in sebagai frater di sebuah...

Musa: Pemimpin Yang Sejati

Gambar
Sebuah Refleksi atas teks Bilangan 11:4b-15 Di setiap momen menjelang pemilu atau pilkada, tidak se dikit orang berbondong-bondong mencalonkan diri untuk merebut kekuasaan sebagai pemimpin. Pada saat itu pula, berbagai gagasan diutarakan dan dilempar kepada para pemilih dengan daya tarik yang kuat, dipoles dengan kata-kata memesona. Janji-janji manis tidak pernah absen dari setiap mulut para kandidat. Tak kalah menarik, setiap pasangan calon (paslon) membuat poster-poster besar dengan slogan-slogan yang memukau, seperti “Siap kerja bersama rakyat” atau “Mendengarkan suara rakyat.” Begitu indah bait-bait narasi itu hingga rakyat pun kebingungan harus memilih siapa, sebab semua janji terdengar mengesankan. Setelah pemilihan usai, bersyukurlah bagi yang menang, dan tersungkurlah yang kalah. Namun kerap kali, saat seseorang resmi menjadi pemimpin, narasi-narasi indah yang dulu diperdengarkan perlahan memudar. Rakyat mulai lelah menagih janji yang tak kunjung ditepati. Tak jarang kita...