Malam Pertama

Tak biasanya dingin seperti ini. Alam seolah merajuk dengan awan hitam menggantung di angkasa. Tak ada bintang yang biasa menemaniku di malam-malam panjang di warung Bibi Umi. Hanya rintik-rintik hujan yang berbisik, seakan hendak jatuh lebih deras.

Di tengah keheningan, wajah seorang gadis berkacamata kembali muncul di benakku. Wajahnya kulihat Senin lalu di pintu masuk kelas—tidak asing, meski sudah lama aku melupakannya. Seperti papan mading yang menempelkan kembali memori lama, aku tersadar: aku pernah mengenalnya.

“Selamat siang, Nana. Nana Hendra, kan?”

Suara itu menyergapku siang tadi, di depan mading kampus. Suara yang seketika menyeretku ke masa lalu.

“Aku Loli, anak Bapa Desa. Nana masih ingat saya?”

Nama itu menyalakan percikan nostalgia. Tentu, aku mengenalnya. Gadis yang dulu diam-diam kucari dengan alasan palsu pada ibuku—kataku hendak ke rumah Oma di kampung sebelah, padahal hanya ingin bertemu anak Bapa Desa.  Gadis yang dulu kuimpikan sebagai belahan jiwa, sebelum ayah memutuskan pindah tugas ke kota. Loli. Kini ia dewasa, berkacamata, dan semakin menawan.

Kami kembali duduk bersama di warung Bibi Umi—tempat yang sama dulu jadi saksi banyak tawa mahasiswa. Hanya saja, kali ini percakapan kami lebih berat.

“Nana, sejak Nana pindah, banyak hal berubah di kampung,” ucap Loli, matanya sendu.

“Bagus tu kan”, kataku sambil meneguk teh panas, mencoba mendengar dengan tenang.

Ya, bagus kalau perubahan ke arah yang lebih baik. Namun sekarang ceritanya berbeda. Beberapa tahun terakhir, orang-orang asing datang. Katanya, mereka adalah utusan pemerintah datang untuk meneliti panas bumi di kampung kita. Mereka bilang kampung kita kaya. Ada yang pro, karena katanya kampung kita bisa maju, tak lagi disebut tertinggal. Tapi… ada juga yang menolak, takut kampung hancur kalau dikeruk.”

Loli menunduk, suaranya bergetar.

“Bapa sekarang serba sulit. Dua kubu saling bertarung. Aku takut, Nana… takut kalau semua ini berakhir dengan nyawa melayang.”

Air matanya jatuh, pelan, seperti hujan di luar sana. Dan tiba-tiba aku teringat lagi—saat terakhir kali kami berpisah dulu, ketika aku mengusap air matanya dengan canggung. Kini, bertahun-tahun kemudian, aku melakukan hal yang sama. Mengambil selembar tisu dari meja Bibi Umi, menghapus tangis yang sama, hanya dengan kisah yang berbeda.

Aku menatapnya dalam-dalam. Ada rasa rindu yang muncul kembali, tapi lebih dari itu, ada luka yang kurasakan untuk kampung kami.

“Loli,” kataku pelan, “aku memang bukan siapa-siapa di kampung sekarang. Tapi aku bisa menulis, bisa menyuarakan yang sebenarnya. Biar orang tahu, kalau kemajuan tak seharusnya merusak rumah kita sendiri.”

Masalah ekologis yang sering muncul akibat proyek geothermal antara lain peningkatan risiko gempa bumi, pergeseran tanah, dan perubahan bentuk permukaan bumi, kerusakan pada sistem akuatik, serta emisi gas rumah kaca dan pelepasan zat beracun seperti H2S.

Loli mengangkat wajahnya. Senyumnya samar, tapi matanya menyala oleh harapan.

Dan di tengah nostalgia itu, aku sadar: perasaan pada Loli mungkin dulu adalah cinta remaja yang pernah patah, tapi cinta pada kampung halaman—itu yang tak pernah pudar.

Malam makin larut. Hujan berhenti. Bintang satu-dua mulai berani menampakkan diri.
Aku menggenggam gelas tehku erat-erat. Entah bagaimana nasibku dan Loli, tapi satu hal pasti: kami sama-sama tak ingin kampung tempat kenangan itu lahir hilang begitu saja.

Itulah malam pertama awal kisahku bersama Loli, semenjak pernah menghilang namun datang kembali. Kisah yang bersemi kembali, namun bukan lagi tentang rasa melainkan tentang bumi masa depan.

 nana_darvis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musa: Pemimpin Yang Sejati

Moke: Anugerah Allah di Antara Berkat Ekonomi dan Luka Sosial

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru