Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

LUPA AKAN LUKA

Gambar
  Malam itu hujan turun pelan, seakan ikut menangis bersama seorang ibu yang berlutut di sudut rumah kayu kecil mereka. Lilin kecil menyala di depan patung salib yang sudah agak pudar warnanya. Di sana, mama Rafael berdoa dengan suara yang tertahan. “Ya Tuhan… kuatkan kami…” Air matanya jatuh satu per satu ke lantai. Di balik pintu yang sedikit terbuka, seorang anak laki-laki berdiri diam. Rafael. Ia tidak berani masuk. Tidak berani juga pergi. Sejak ayahnya meninggal, rumah itu tidak pernah benar-benar terasa sama. Dulu ada tawa, ada cerita, ada pelukan hangat. Sekarang yang tersisa hanyalah keheningan… dan doa yang basah oleh air mata. Rafael adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Usianya masih terlalu muda untuk mengerti semua persoalan orang dewasa. Tetapi hidup tidak pernah menunggu seseorang menjadi siap. Masalah datang silih berganti. Bukan hanya karena kepergian ayahnya, tetapi juga karena keluarga dari pihak ayah yang perlahan menjauh. Kata-kata yang menyakitkan, s...

Jatuh Pada Ciptaan, Rindu Pada Pencipta

Gambar
  Engkau yang telah menjadikannya ada Indah, aman dan penuh gairah. Malam Kau tak biarkan jalan sendiri Selalu ada-nya beranda dalam setiap detakan menit.   Dalam kesendirianku, Mengagumi yang ada semenjak engkau titipkan pada dunia. Yang ada menawan, tak pernah lenyap dalam kesudahan waktu Sebab Engkau menghadirkannya sebagai yang ada, indah, aman dan nawan.   Aku jatuh pada ada yang Engkau ciptakan sendiri. Ada yang membuat dunia semakin puitis dengan kata Awan dihiasi dengan bujukan maut Serta dekorasi hayalan semakin menawan Menembus ujung hati.   Yang ada kau ciptakan Indah, aman dan penuh gairah Aku jatuh cinta dan lupa. Aku mabuk pada indahnya, dan nyamannya. Sekadar ciptaan telah membuatku aman. Aku jatuh. aku juga jatuh pada ciptaan manusia yang indah, aman dan nawan Pada Hedonisme. Konsumerisme. Egoisme. Materialisme. Individualisme. Utilitarianisme. Narsisme. Pragmatisem. Relativisme. Sekularisme. Aku l...

Mencintainya Salah Posisi

Gambar
  Aku mengenal Enu pada waktu yang tak pernah kami sepakati. Waktu yang datang begitu saja, lalu diam-diam menetap di dada. Ia berdarah Manggarai, tetapi lahir dan tumbuh di tanah Timor. Tanah yang keras, jujur, dan hangat seperti sorot matanya. Perjumpaan pertama kami sederhana: percakapan tentang jalan yang sama, tentang arah hidup yang tanpa sadar pernah kami lalui beriringan. Dari situlah rasa mulai bekerja pelan-pelan. Bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan sunyi yang tekun. Aku jatuh cinta tanpa izin, tanpa aba-aba, tanpa kepastian apakah ia akan jatuh ke arah yang sama. Namun aku tahu, di balik hatinya ada nama lain yang telah lebih dulu berumah. Dia yang di Sibolga, katanya. Dengan segala kenyamanan dan kenangan yang telah lebih lama memeluk Enu. Aku tahu tentang itu. Dan sejak tahu, aku mencintainya dengan rasa yang selalu kalah sebelum bertanding. Aku hanyalah pengagum yang berdiri di pinggir cerita. Menyimpan rasa dari perjumpaan singkat, menyusunnya dalam do...

Senja dan Ceritanya

Gambar
Ketika senja itu lebih menarik  dan kita hanya  bisa memandang dengan menyimpan perasaan.  Kita hanya mampu mengagumi senja Iya hanya bisa mengagumi dalam diam Karena sejatinya senja itu abadi Ia mengajarkan bahwa jejak yang tertinggal pun bisa indah, dan keheningan mampu berbicara lebih dalam daripada kata-kata Karena sejatinya perasaan itu ada Dan akan tetap ada dalam setiap cerita yang terukir Dan senja akan membuat semua abadi Namun semuanya hanya cerita tentang jejak-jejak itu Jejak yang telah membuka hati dan pikiran ini untuk tetap mengagumi dalam diam Entalah sampai kapan waktu akan berbicara bahwa kisah senja itu adalah memiliki kita bersama. "Kami ibadat dulu nanti baru lanjut" Cerita senja berakhir disini. Kupang, 1/2/26