Mencintainya Salah Posisi
Aku
mengenal Enu pada waktu yang tak pernah kami sepakati. Waktu yang datang begitu
saja, lalu diam-diam menetap di dada. Ia berdarah Manggarai, tetapi lahir dan
tumbuh di tanah Timor. Tanah yang keras, jujur, dan hangat seperti sorot
matanya. Perjumpaan pertama kami sederhana: percakapan tentang jalan yang sama,
tentang arah hidup yang tanpa sadar pernah kami lalui beriringan.
Dari
situlah rasa mulai bekerja pelan-pelan. Bukan dengan gegap gempita, melainkan
dengan sunyi yang tekun. Aku jatuh cinta tanpa izin, tanpa aba-aba, tanpa
kepastian apakah ia akan jatuh ke arah yang sama. Namun aku tahu, di balik
hatinya ada nama lain yang telah lebih dulu berumah. Dia yang di Sibolga,
katanya. Dengan segala kenyamanan dan kenangan yang telah lebih lama memeluk
Enu. Aku tahu tentang itu. Dan sejak tahu, aku mencintainya dengan rasa yang
selalu kalah sebelum bertanding.
Aku
hanyalah pengagum yang berdiri di pinggir cerita. Menyimpan rasa dari
perjumpaan singkat, menyusunnya dalam doa-doa kecil yang tak pernah berani
kubacakan lantang. Aku tak pernah tahu, apakah Enu menyimpan cerita yang sama,
atau hanya aku yang terlalu pandai memberi makna.
Suatu
malam, keberanian mengalahkan ketakutanku. Aku tak lagi sanggup memendam.
Kukatakan rasa itu. Apa adanya, tanpa hiasan. Dan ia menolakku, dengan suara
yang lembut tapi tegas: bahwa hatinya telah lama ditempati.
Sejak
malam itu, aku belajar kembali menjadi diam. Pergi dengan harapan yang
kubungkus rapi:
barangkali suatu hari Enu akan mengerti rasa yang pernah kutitipkan padanya.
Malam
ini, bulan tampak lebih cantik dari biasanya. Di tengah kerumunan manusia dan
riuh acara, aku mencarinya. Namanya kusebut dalam hati, berkali-kali. Namun ia
tak kunjung tampak.
Hingga
akhirnya, aku melihatnya di antrian menuju meja makan. Enu berdiri di sana. Tatapan
mata yang sendu. Aku mengenalnya seketika. Tapi matanya… kosong dari rasa yang
pernah kuharapkan. Aku yakin, sebab rasa di Sibolga masih jauh lebih dalam
daripada apa pun yang kupunya.
Namun
ada yang berbeda malam ini. Tatapan pertamaku padanya terasa lebih dalam.
Lebih menakjubkan. Dia. Yang selama ini kurindukan ada tepat di hadapanku,
nyata, dekat, dan tak terelakkan. Aku memberanikan diri mendekat. Kami
bersalaman. Berbincang seperlunya. Aku tersenyum, meski hatiku bergetar hebat. Aku
tahu, rasa ini masih sepihak. Dan ia masih nyaman dengan dia yang jauh di sana.
Lalu
musik itu dimulai. Tebe, tarian khas Timor mengikat kami dalam satu
lingkaran. Tanpa banyak kata, aku menggenggam tangannya. Erat. Seolah-olah
takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya tak pernah kumiliki. Darahku menjalar
cepat saat tatapannya menusuk dadaku.
Ada panas yang aneh. Ada getar yang tak bisa kupahami. Jemarinya terasa lebih
lembut dari dugaanku, dan untuk sesaat, dunia seperti berhenti berputar.
Di
dalam lingkar tebe itu, aku bertanya dalam diam: apakah ini hanya
sisa-sisa harapanku?
atau adakah cinta yang tak sempat ia akui? Aku tak tahu jawabannya.
Yang kutahu, aku mencintainya, meski salah waktu, salah tempat, dan salah
posisi. Dan jika mencintai tanpa memiliki adalah dosa, maka malam itu, di bawah
bulan Timor,
aku berdosa dengan sepenuh hati.
Aku
tidak pernah memintamu memilihku. Aku hanya berharap suatu hari kau sadar,
bahwa ada seseorang yang mencintaimu tanpa syarat, tanpa janji, tanpa tempat. Enu
memilih dia. Itu hakmu. Aku menerimanya, meski dadaku harus belajar bernapas
ulang.
Tapi ketahuilah satu hal, Enu: aku mencintaimu saat enu belum ragu, saat hatimu
masih utuh, saat aku tahu aku akan kalah. Jika suatu hari cintamu padanya
melelahkan, dan enu bertanya dalam sunyi siapa yang dulu menggenggam tanganmu
bukan karena ingin memiliki, melainkan karena takut kehilangan. Ingatlah aku.
Aku adalah orang yang Enu lepaskan, bukan karena aku kurang mencintaimu,
melainkan karena aku mencintaimu dengan cara yang tak pernah enu pilih. Apakah
aku harus melanjutkan rasa ini? Ataukah cukup sampai di sini, di genggaman
singkat yang akan hidup selamanya dalam ingatan?
feb, 26
Na_Da
.jpg)
Komentar