Terima Kasih, Batuna
Di ujung senja, langkahku perlahan,
meninggalkan jejak di tanah yang diam—
Battuna, tempat hati pernah tenang,
di antara doa dan tawa yang tak pernah padam.
Tak mudah mengucap salam perpisahan,
ketika tiap wajah menyimpan kasih,
setiap tangan menjabat dengan keikhlasan,
dan tiap pagi disambut damai yang bersih.
Kopi manis buatan mama Maria,
Mengusir dingin, menghangatkan badan.
Sopi dalam seloki, bahkan satu galon disiap,
mengikat cerita, mengusir sunyi yang pilu.
Diantara umat yang memeluk dengan jiwa,
mengajariku arti rumah tanpa tembok dan pagar,
di setiap misa, di setiap peluh kerja,
ada cinta yang tak pernah ingin ku tinggal.
Setiap perjumpaan di sini adalah syair,
mengalir dalam makna yang tak bisa diseka oleh waktu.
Di Battuna, jiwa seakan menemukan pelabuhannya,
raga bertemu raga—bukan untuk singgah,
tapi untuk tinggal, walau semesta terus berubah.
Dan di tengah sunyi ini,
K(s)opi menjadi sahabat yang paling setia,
hangatnya menyentuh lebih dalam
dari sekadar cangkir dan aroma.
Ia tak pernah berlabuh di hati lain,
selalu pulang pada rindu yang sama—pada kita yang pernah bicara dalam diam.
Kopi dan sopi di Battuna—dua penjaga nostalgia,
menyimpan sajak-sajak tentang aku yang pernah ada,
menikmati gigil pagi dan sunyi yang abadi,
di bukit Battuna… tempat kenangan enggan pergi.
Kini jarak akan jadi jembatan rindu,
tapi kenangan tetap tinggal, tak kan berlalu.
Terima kasih, Batuna—
untuk cinta yang sederhana, untuk hati yang terbuka.
Bila waktu berputar dan Tuhan mengizinkan,
izinkan langkah ini kembali ke pelukan
kopi yang menghangatkan dada,
dan sopi yang memeluk senyap dingin.
CATATAN SENJA, DI PENDOPO GEREJA PAROKI STA MARIA IMMACULATA BATTUNA.
Komentar