Nunuh Amasat; Kabar Yang Hilang
Malam
kembali mengetuk jendela,
membawa dingin yang menceritakan kehilangan—
sejak kau pergi minggu lalu,
dan tak satu pun kabar menyusul langkahmu.
Katamu:
"Aku berada di Nunuh Amasat, tempat sunyi bersemayam.
Di sana, hanya detik-detik waktu yang mendesah
seperti Firdaus yang pelan-pelan dinanti."
Tapi
malam semakin dingin,
dan kabarmu membeku bersama embun
yang jatuh tanpa suara.
Katamu
lagi:
"Sabarlah sebentar, aku akan kembali..."
Tapi sebentar itu kini terasa seperti musim
yang tak pernah datang kembali.
Aku
duduk di ruang tunggu—
menanti pesan yang tak kunjung tiba.
Hanya malam yang berbisik lembut,
"Pergilah... kini ia semakin menjauh."
Di
atas Nunuh Amasat,
kau membuka buku harianmu—
dan menulis jejak-jejak sunyi
dengan tangan yang menari di antara waktu.
Pesanmu
hanya satu,
"Aku akan kembali. Sabarlah sebentar."
Namun malam pun berlalu,
dan katamu, dan janjimu,
sepertinya hanyut,
bersama derasnya Kali Noelmina—
tempat di mana kita pernah saling menggenggam,
lalu perlahan…
melepaskan. Pergi. Hilang.
nana-darvis

Komentar