Doa Enu

 


Malam begitu sepi. Tidak ada suara yang menemani waktu malam ini. Hanya seberkas cahaya yang muncul di balik pohon angsono yang daunya gugur di bulan Juli. Butir-butir rosario ku genggam erat, menghiasi setiap tapak kakiku menuju gua Maria. Ini adalah kebiasaanku—kami para anak seminari—setelah makan malam, kami mengambil waktu pribadi untuk mendaraskan doa rosario. Kami percaya bahwa kekuatan dari Sang Bunda mampu menjawab setiap kegelisahan hidup.

Malam seolah-olah bercerita pada angin tentang anak manusia yang terus berharap dan bertekuk. Aku merasakannya. Setiap langkahku seperti mengetuk pintu langit, seolah menyampaikan bahwa ada seseorang di bumi yang datang membawa gundah. Malam berbisik lembut, menyambutku, menenangkan. Kata-kata Kitab Suci terlintas begitu nyata: “Datanglah kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan.”

Langkahku terhenti saat sampai di depan gua. Nyala lilin-lilin tak pernah padam, memantulkan cahaya yang membuat wajah Bunda Maria tampak hidup. Bunga-bunga kenangan tertata rapi, dan di antara kelopaknya, terdapat kertas-kertas kecil berisi doa dan harapan—tulisan tangan dari hati yang bersyukur, berharap, pun pula yang terluka, dari jiwa yang percaya.

Namun pandanganku tertarik pada satu sosok di depanku. Ia berlutut dengan tubuh sedikit gemetar, rosario di tangannya berguncang halus, dan air matanya mengalir begitu jernih. Tak ada suara. Hanya air mata yang berbicara. Seolah seluruh dunia di sekelilingnya lenyap, kecuali dia dan Sang Bunda.

Aku berdiri terpaku. Seolah membuka ruang refleksi untukku. Kesedihannya seperti menyebar ke udara, menyentuhku, membuatku ikut merasakan beban yang ia pikul. Aku ingin mendekat, tapi tak ingin mengganggu kekhusyukannya. Juga ia tak ku kenal. Maka aku duduk di tempat duduk paling belakang, tak jauh darinya, dan mulai berdoa.

"Salam Maria, penuh rahmat…"

Kalimat-kalimat rosario keluar dari mulutku pelan-pelan. Tapi kali ini, aku tak hanya mendoakan diriku sendiri. Aku mendoakan dia juga—gadis yang asing itu. Aku tidak tahu siapa dia.

Tak lama kemudian, ia menyeka air matanya, berdiri perlahan, dan menoleh ke arahku. Aku terkejut ketika melihat sorot matanya. Ada luka yang dalam, namun ada pula sinar yang sedang mencoba tumbuh kembali.

"Hai," sapaku pelan. "Kau tak apa-apa?"

Ia mengangguk perlahan. "Aku… hanya sedang berbicara dengan Bunda," jawabnya, suara lirih namun jelas. "Aku Enu."

"Nana," jawabku sambil tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Enu."

Ia duduk di sebelahku, dan untuk beberapa saat, kami hanya diam. Lalu perlahan-lahan, ia mulai bercerita—tentang keluarganya yang retak, tentang perasaannya yang hancur, dan tentang rasa takut yang tak kunjung pergi. Tapi yang membuatku merinding adalah ketika ia berkata, "Tadi… saat aku menangis di sini, aku merasa seperti ada yang memelukku. Bukan manusia. Tapi sesuatu… yang hangat dan lembut. Aku rasa… itu Bunda Maria."

Aku menahan napas. Tidak tahu harus berkata apa. Hanya bisa mengangguk.

"Dan… aku merasa tenang sekarang," lanjut Enu. Ia tersenyum. Senyum yang ringan, namun indah. Senyum yang seperti baru lahir dari keputusasaan.

Malam masih sunyi. Tapi kini, sunyinya membawa damai. Tidak lagi menakutkan. Aku memandang ke arah gua, dan berbisik dalam hati, “Terima kasih, Bunda. Telah mendengarnya. Telah memeluknya.”

Ketika aku berpaling lagi ke arah Enu, senyumnya masih terpancar. Dan anehnya, aku pun merasa damai. Seolah-olah, dengan melihat seseorang yang disembuhkan, aku juga ikut disembuhkan.

Kami bangkit berdiri bersama, berjalan perlahan keluar dari gua. Angin malam menyapa kami dengan sejuk. Daun-daun berdesir seperti lagu malam yang lembut.

Malam ini, aku belajar bahwa doa tidak selalu menjawab dengan kata. Kadang doa menjawab lewat pelukan yang tak terlihat, lewat air mata yang mengalir bersama harapan, atau lewat perjumpaan yang tak terduga.

Kini Enu pergi dengan bahagia, dan di jalan simpang kami berpisah.


Kupang, 31 Juli 2025

nana_darvis

Komentar