Battuna dan Dinginnya
Dalam Dingin Battuna, Aku Pernah Ada
Kabut pagi menyelubungi semesta Batuna,
menyulam sunyi di tiap jengkal cakrawala.
Dingin menyelinap pelan ke sela-sela nadi,
menyatu dengan raga yang menapak pelatar bebatu—
jejak yang diam-diam menyimpan rindu paling syahdu.
Setiap perjumpaan di sini adalah syair,
mengalir dalam makna yang tak bisa diseka oleh waktu.
Di Battuna, jiwa seakan menemukan pelabuhannya,
raga bertemu raga—bukan untuk singgah,
tapi untuk tinggal, walau semesta terus berubah.
Dan di tengah sunyi ini,
K(s)opi menjadi sahabat yang paling setia,
hangatnya menyentuh lebih dalam dari sekadar cangkir dan aroma.
Ia tak pernah berlabuh di hati lain,
selalu pulang pada rindu yang sama—pada kita yang pernah bicara dalam diam.
Kopi dan sopi di Battuna—dua penjaga nostalgia,
menyimpan sajak-sajak tentang aku yang pernah ada,
menikmati gigil pagi dan sunyi yang abadi,
di bukit Battuna… tempat kenangan enggan pergi.
Lopo Gereja Paroki Sta. Maria Immaculata Battuna, 5 Juli 2025. 09:20.
Komentar