Diperbarui oleh Sabda: Inspirasi Claret bagi Dunia VUCA

Fr. Darvis CMF.

Bulan Kitab Suci Nasional 2025 kembali mengetuk kesadaran umat Katolik Indonesia untuk merenungkan Sabda Tuhan sebagai sumber kehidupan. Tema tahun ini, “Allah Sumber Pembaruan Hidup”, mengajak setiap orang untuk menemukan kekuatan rohani dalam ziarah kemuridannya. Tema besar ini dijabarkan dalam empat subtema, yakni: Allah sumber pembaruan relasi dengan diri sendiri, dengan sesama, dalam keluarga, dan dengan Allah sendiri. Kitab Zakaria dan Maleakhi hadir sebagai inspirasi profetis: menyerukan pertobatan, mengingatkan manusia akan keterpurukan karena dosa, sekaligus membuka ruang rahmat agar manusia kembali kepada Allah yang setia.

Pembaharuan hidup yang bersumber dari Allah ini menjadi semakin relevan ketika kita menilik kehidupan Santo Antonius Maria Claret. Pendiri Kongregasi Misionaris Claretian ini adalah seorang pribadi yang menaruh hidupnya sepenuhnya pada Sabda Allah. Kitab Suci bukan hanya ia baca, melainkan ia hayati dan wartakan dengan penuh semangat. Claret meyakini bahwa Sabda Allah adalah api yang harus menyala dalam hati setiap orang beriman, membakar keegoisan, dan mengobarkan semangat pelayanan bagi sesama. Hidupnya menunjukkan bahwa pembaruan sejati bukan datang dari ambisi pribadi, melainkan dari penyerahan diri total pada Allah, sumber segala pembaruan.

Pengalaman Claret ini sejatinya menggambarkan wajah Allah sebagai sumber pembaruan hidup. Allah mengubah jalan hidup seseorang, bahkan yang tampak sudah pasti arahnya, menjadi jalan panggilan yang sarat makna. Seperti yang ditulis Georg Kirchberger, pengalaman akan Allah dapat muncul dari alam, sejarah, hubungan antarpribadi, maupun pengalaman batin. Claret mengalami keempat dimensi ini, sehingga imannya bukan hanya intelektual, tetapi sungguh transformatif.

Dalam konteks kaum hidup bakti masa kini, refleksi ini menemukan urgensinya. Kita hidup di dunia yang ditandai dengan istilah VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), atau dalam istilah Zygmunt Bauman: dunia cair. Dunia yang serba cepat berubah, sulit diprediksi, penuh kerumitan, dan sering kali kabur maknanya. Dunia ini menawarkan arus deras relativisme, godaan teknologi, individualisme, serta ketidakpastian masa depan. Tantangan terbesar bagi kaum hidup bakti bukan hanya bagaimana tetap setia pada kaul, tetapi bagaimana menemukan arah dalam situasi yang serba cair ini.

Di sinilah pesan “Allah sumber pembaruan hidup” menemukan daya gunanya. Allah melalui Sabda-Nya memberi fondasi yang kokoh ketika segala sesuatu tampak cair. Sabda Allah memampukan kaum hidup bakti untuk mengakar pada spiritualitas, sekaligus lentur dalam menghadapi perubahan zaman. Inspirasi Santo Antonius Maria Claret menunjukkan bahwa kesetiaan pada Sabda Allah justru memberi kreativitas untuk menjawab tantangan misi di era yang penuh ketidakpastian. Ia mampu memadukan doa, kerasulan, dan kreativitas pastoral karena hidupnya terus diperbarui oleh Allah sendiri.

Bulan Kitab Suci Nasional 2025 ini bukan hanya ajakan untuk membaca Kitab Suci secara pribadi, melainkan juga seruan untuk membiarkan diri diperbarui oleh Allah. Pembaruan itu nyata dalam keterbukaan hati, keberanian untuk bermisi, serta kesetiaan untuk menyalakan api kasih Kristus di dunia yang penuh gejolak. Bagi kaum hidup bakti, inilah panggilan mendesak: menjadi tanda kehadiran Allah yang memperbarui, menjadi saksi Sabda yang meneguhkan, dan menjadi misionaris harapan di dunia VUCA.

Maka, dalam dunia VUCA, kaum hidup bakti dipanggil bukan sekadar bertahan, melainkan menghadirkan harapan. Dengan membiarkan Sabda Allah mengalir dalam hidup, mereka dapat menjadi tanda profetis di tengah kebingungan zaman. Seperti Claret yang beralih dari perancang duniawi menjadi perancang rohani, kaum hidup bakti pun dipanggil menjadi “perancang pembaruan” dalam komunitas dan masyarakat.

Akhirnya, Bulan Kitab Suci Nasional ini meneguhkan bahwa Allah tetap setia menjadi sumber pembaruan hidup. Pertanyaannya kini: apakah kita berani, seperti Claret, membiarkan Allah mengubah jalan kita, dan menjadikan kita saksi pembaruan di dunia yang serba cair ini? Belajar dari Santo Antonius Maria Claret bahwa hidup yang diperbarui oleh Allah tidak pernah statis, melainkan selalu dinamis, kreatif, dan misioner. Hanya dengan berakar pada Sabda Allah, kaum hidup bakti dan seluruh umat beriman dapat menjadi saksi bahwa Allah sungguh adalah sumber pembaruan hidup—dulu, kini, dan selamanya.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musa: Pemimpin Yang Sejati

Moke: Anugerah Allah di Antara Berkat Ekonomi dan Luka Sosial

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru