Gereja yang Hidup di Tengah Umat: Kisah dari KUB St. Yosep Matani
Senja itu datang perlahan, seolah memberi ruang bagi hati untuk bersiap. Tak menunggu waktu lama, Bapa Pit atau Bapa Yan, telah menanti di teras depan biara, menunggu kami yang siap berangkat. Saya dan Fr. Vitus melangkah menuju tempat perjumpaan katekese APP 2026 bersama umat KUB St. Yosep Matani dengan perasaan yang sederhana, tanpa ekspektasi berlebih, hanya kerinduan untuk hadir dan mendengarkan. Namun, siapa sangka, perjumpaan itu justru menjadi ruang yang begitu hangat dan menghidupkan.
Sejak awal, suasana terasa
berbeda. Sapaan yang tulus, senyum yang tidak dibuat-buat, dan kehadiran satu
sama lain yang begitu utuh menciptakan rasa kebersamaan yang sulit dijelaskan
dengan kata-kata. Tema yang kami dalami; Gerakan
misioner Gereja dalam menghadirkan pengharapan, tidak berhenti
sebagai kalimat indah, tetapi benar-benar menjelma dalam pengalaman hidup umat
yang hadir.
Satu per satu sharing dibagikan.
Ada yang bercerita dengan suara bergetar, menahan air mata saat mengisahkan
pergumulan hidup; ada pula yang mengundang tawa lepas karena kesederhanaan
pengalaman yang jujur dan apa adanya. Di antara air mata dan tawa ria itu, saya
melihat sesuatu yang nyata: iman yang hidup.
Saya tersentuh melihat bagaimana
mereka tidak menyembunyikan luka, tetapi justru menjadikannya sebagai sumber
pengharapan. Dari pengalaman kehilangan, kesulitan ekonomi, hingga dinamika
dalam keluarga, semuanya diolah menjadi kesaksian bahwa Tuhan tetap bekerja, bahkan
dalam keterbatasan.
Yang paling mengesankan adalah
semangat mereka yang begitu aktif. Mereka tidak berhenti pada refleksi atau
kesadaran pribadi semata. Ada gerakan nyata yang mereka bangun bersama:
memperhatikan mereka yang membutuhkan sentuhan kasih, membantu yang kesulitan,
serta menjaga lingkungan sekitar sebagai bagian dari tanggung jawab iman.
Saya belajar bahwa menjadi Gereja
yang misioner bukan pertama-tama soal pergi jauh, tetapi tentang kesediaan
untuk hadir secara nyata bagi sesama yang dekat. Mereka menunjukkan bahwa
pengharapan tidak selalu harus diwartakan dengan kata-kata besar, tetapi cukup
dengan tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta.
Di situ saya juga melihat sesuatu
yang lebih dalam: kesadaran kelompok. Mereka berjalan bersama, saling
menguatkan, dan tidak membiarkan siapa pun berjalan sendirian. Ada rasa
memiliki, ada kepedulian yang tumbuh bukan karena kewajiban, tetapi karena
kasih yang terus dipupuk.
Perjumpaan itu akhirnya menjadi
cermin bagi saya. Saya datang untuk jalan bersama, sebagai anak yang sedang
belajar, dan pulang dengan hati yang
diperkaya. Dari mereka, saya belajar tentang ketulusan, keteguhan, dan iman
yang berakar dalam kehidupan sehari-hari.
Sungguh,
katekese APP 2026 ini bukan sekadar kegiatan, melainkan pengalaman yang
berkesan dan mendalam. Sebuah perjumpaan yang mengingatkan saya bahwa di tengah
segala keterbatasan, pengharapan selalu menemukan jalannya, melalui hati-hati
yang mau terbuka dan tangan-tangan yang rela melayani.
Terimakasih untukmu semua,,,,,,



Komentar