Lilin


Lampu-lampu kecil di sudut altar memantulkan bayangan lembut pada dinding, dan aroma lilin yang terbakar pelan mengisi udara dengan ketenangan yang sulit dijelaskan. Usai misa, ia berdiri sejenak, memeluk hening yang jatuh seperti hujan halus dalam hati.

Di sudut kanan gereja, tempat lilin-lilin untuk doa menyala. Ia melangkah ke sana, perlahan, seakan setiap langkah adalah doa yang terucap tanpa suara. Ia menyalakan dua lilin pertama—untuk orangtuanya. Lalu satu lilin lagi, yang membuat napasnya terasa hangat dan degupnya lebih pelan.

“Satu lilin untukmu. Untuk ujianmu hari itu. Untuk semangatmu. Untuk jalan panggilanmu yang panjang”


Dan diam-diam ia menyisipkan satu doa yang hanya diketahui dirinya dan Tuhan:
“Semoga suatu saat aku bertemu dia… bukan lagi Frater, tapi Pater.”
Doa yang ia ulang sejak mengenalmu, doa yang ia jaga meski kadang terasa terlalu berani.

Ia tahu dirinya berharap… mungkin terlalu berharap. Tapi apa boleh buat? Keyakinan itu tumbuh seperti fajar yang tidak bisa ia tahan: kau pasti menjadi imam. Ia percaya, sekalipun jalan itu terjal, sekalipun banyak hati diuji, sekalipun tidak semua orang mampu bertahan.

Ia percaya padamu. Lebih dari yang pernah ia sadari.

Pada awalnya semuanya biasa saja. Ia mengenalmu seperti mengenal kakak, atau teman, atau seseorang yang lewat lalu berhenti sejenak. Tidak pernah ada niat untuk berjalan sejauh ini. Tidak pernah terpikir perasaannya akan mengambil arah lain.

Namun semuanya berubah saat ia merasa… bebas. Bebas menjadi dirinya sendiri di depanmu.
Bebas bercerita apa adanya. Bebas manja, bebas ngambek, bebas tertawa terlalu keras atau diam terlalu lama.

Dan anehnya, ia tidak pernah malu, meski ia lebih tua darimu. Ada sesuatu dalam dirimu yang menenangkan, yang membuat dinding-dinding pertahanan yang selama ini ia bangun perlahan runtuh begitu saja.

Ia ingat ketika kalian bertengkar kecil, dan ia sempat berkata bahwa ia tidak mau menunjukkan sisi manja atau ngambeknya padamu. Pada saat itu ia sadar… bahwa justru di hadapanmulah ia takut tampak rapuh. Karena kamu berarti. Karena kamu berbeda.

Dan ketika ia mencoba memahami perasaannya, muncul kenangan lama yang ia simpan jauh di sudut hati—tentang dirinya kecil yang sangat dekat dan sangat sayang pada bapaknya.
Dulu kalau lagi ngambek, bisa satu hari penuh. Dan ayahnya—meski sudah tua—tetap membujuknya sampai ia luluh. Itulah Maria kecil.

Dan entah bagaimana, Maria kecil itu kembali hadir… ketika bersama kamu.

Ada rasa aman. Ada rasa dibutuhkan. Ada rasa… disayangi.

Sebelum meninggalkan gereja malam itu, ia menatap lilin yang menyala untukmu. Cahaya kecil itu seperti memantul dari dalam dadanya.

Ia membisikkan satu kalimat terakhir sebelum pergi: Baik-baik di sana… jangan lupa doakan saya juga.”

Lalu ia melangkah pulang, dengan hati yang menyimpan rindu, doa, dan keyakinan yang tetap ia pelihara-meski tidak semua bisa ia ucapkan padamu.

Hanya Tuhan dan cahaya lilin yang tahu betapa besar harapannya untukmu.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musa: Pemimpin Yang Sejati

Moke: Anugerah Allah di Antara Berkat Ekonomi dan Luka Sosial

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru