Oa
Senja menarik diri ke pertiwi. Bekas tapaknya tercatat dalam
buku harian. Aku yang lelah hari ini, menuai keindahan senja yang pergi. Tak
kusadari waktu bersama senja begitu lama. Sederet kisah dan kenangan menghiasi waktu
senja yang kini pamit. Aku merenung dalam deretan peristiwa itu, tentang aku
yang tak berharga. Aku tak berarti. Dan aku yang kini.
Buku refleksi yang aku tulis setiap ujung senja, mengingatkan
aku tuk terus mengoreksi diri. Setiap lembaran buku refleksi terlampir rapi,
aku yang hari ini.
Kini senja kembali mengingatkan aku pada sederetan kisah
silam. Refleksi kecil yang aku tulis bersama nostaligia rasa waktu itu. Tak
terasa waktunya dua tahun kini teringat kembali dalam sajak-sajak senja.
Halaman demi halaman aku buka lembaran refleksi itu. Tiba-tiba
aku berhenti pada judul yang sempat aku tulis; Oa.
Penasaran mendiami seluruh diri. Ah tulisan apa ini? Batin menggoda untuk lirik lebih jauh. Aku membaca kata demi kata, bait demi bait dan akhirnya satu halaman habis lahap ku baca. Tentang Oa.
Dia seorang gadis yang aku jumpai di ruang tunggu Pelabuhan
Rasa. Awalnya aku mengikuti barisan para penunggu tiket agar bisa berlayar
menuju Kota Kasih. Seorang gadis dibelakangku ikut berbaris rapi. Barisan yang panjang
seolah sedang latihan baris berbaris persiapan tujuh belasan. Waktu meninggalkan
rasa yang jenuh. Dalam antrean panjang itu, aku berusaha untuk melepaskannya
pergi.
Ade mau kemana? Tanyaku pada gadis itu.
Ini kan kak Vy ya? Balasnya tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku binggung, kok gadis ini mengenalku. Awal kebinggunganku
membuka percakapan yang panjang antara aku dan gadis itu.
Aku Oa. Aku mengenal kak Vy pada suatu kesempatan acara di
paroki Fransiskus. Katanya
menyakinkan aku yang sedang binggung. Aku dalam pencarian berusaha menggali ingatan;
siapakah gadis ini?
Awal percakapan yang akhirnya akrab, kini Oa berbagi kisah yang panjang.
***
Ombak Sawu amat tenang malam itu. Dari atas kapal tak terlihat
lampu-lampu yang terpancar dari darat. Kapal dengan tenang mengikuti irama
gelombang yang pelan. Para penumpang pun tenang menikmati gelombang yang terasa
di atas dek kapal.
Oa, berada di sampingku dan tak ada tanda-tanda mau lelap
seperti yang lain. Ia menatap gelombang sambil mendengar desiran air laut yang
menghantam dinding-dinding kapal.
***
Apakah kak Vy percaya Tuhan? Pertanyaan spontan dari Oa yang memecahkan keheningan dan lamunanku. Aku kaget dan tidak tahu harus jawab apa. Pertanyaan itu muncul diluar dugaan dan tak terpikirkan olehku. kenapa tiba-tiba tanya begini, kataku dalam diam.
“aku telah kehilangan sosok utama dalam hidupku. Ia pergi tanpa
pamit. Tanpa basa-basi. Tanpa meninggalkan sepucuk surat atau apapun sebagai
kenangan. Aku kecewa bahkan tidak lagi mengakui keadaan. Tuhan tidak adil. Tuhan
tidak baik. Atau mungkin juga Tuhan itu sudah mati. Kenapa Tuhan tega melakukan
semua ini. Ayahku meninggal berapa bulan yang lalu, karena kecelakaan. Ayahku belum
berumur tua. Kenapa harus ayahku?? Ahh Tuhan terlalu tega untukku. Aku kecewa
dengan Tuhan”. Ungkapnya
menjelaskan keadaannya.
Gelombang laut membuat para penumpang kapal nyenyak dalam tidurnya. Aku sendiri tidak dapat tidur seraya mendengar isi hati dari Oa. Sebagaimana pun aku harus mendengarkannya. Aku tidak tahu kenapa Oa mengungkapkan segala kesesakannya kepadaku dan harus diatas kapal ini, pada hal aku baru saja mengenalnya. Malam itu aku banyak mendengar kisah dari Oa. Malam yang dingin ini, dihiasi oleh deruh ombak, aku lebih banyak mendengar isi hatinya seperti seorang imam yang setia mendengar pengakuan dosa di ruang pengakuan. Mungkin saja Oa, ingin didengarkan.
***
Aku menutup lembaran refleksi itu. Aku duduk sambil menikmati
secangkir Kopi dan menghela nafas panjang. Untung saja aku menulis kisah Oa
dalam buku refleksi hariankku. Aku menyadari bahwa kadang Tuhan menguji iman
manusia dengan kejadian yang tak terduga. Lebih dalam dari pada itu, apakah
manusia masih tetap bertahan pada imannya atau melarikan diri. Tuhan tidak
pernah membenci manusia. Tuhan tidak pernah bersikap tidak adil. Tuhan tidak
pernah mencobai manusia di luar batas kemampuan manusia. Tuhan tidak menutup
mata dengan keadaan manusia.
Semakin dalam sebuah cinta, semakin dalam pula rasa duka. Peristiwa
kehilangan orang yang dicintai tentunya menyakitkan. Rasa sakit itu ada karena manusia
terlalu dalam mencintainya. Kehilangan itu pula pasti dialami oleh setiap
orang, hanya saja waktu yang membedakannya.
Sakit karena kehilangan membuat kita mempertanyakan keberadaan
Tuhan. Tak jarang kita mengugatNya. Namun yang pasti adalah kehilangan itu
menguji kita: bertahan atau lari dariNya.
“Diujung lorong kegelapan itu, ada
cahaya yang menanti”
darvis_tarung
Kupang, 19 Agustus 2024

Komentar