Perawan

Seandainya malam punya mulut,
ia akan berbisik lirih tentang langkah yang selalu kembali,
menegurku di sela-sela sunyi yang selalu menemani.
Seandainya bunga-bunga bersuara,
mereka akan mendesah letih,
karena kehadiranku mengusik hening yang seharusnya abadi.

Namun lampu taman mengerti—
ia tak berkata, tapi sinarnya menenangkan.
Ia tersenyum diam, seolah berbisik:
Nana... tenanglah.”

Cahayanya membias di ujung taman,
tempat seorang gadis berdiri tegap.
Tangannya menggenggam seikat mawar—
entah dari mana, tapi aku tahu,
ada cinta lain yang telah lebih dulu menyampaikannya.

Ia tampak polos.
Sepolos doa yang diucap dari kedalam batin.
Rambut panjangnya tersembunyi di balik kerudung
yang menambah keanggunan parasnya.
Bunga-bunga tak pernah pergi darinya—
seolah harum mereka lahir dari napas gadis itu sendiri.

Ia seorang perawan.
Tak pernah disentuh nikmat dunia,
tak dijamah godaan yang gemerlap.
Ia suci dari sindir, iri, dan gosip yang memuakkan.
Langkahnya bersih dari noda yang ditinggalkan manusia yang kehilangan nurani.

Ia polos—
bukan karena tidak tahu,
tapi karena memilih untuk tetap murni.
Bukan karena ada apanya,
tapi karena apa adanya.

Perawan—
dia dikejar banyak hati yang kelelahan.
Dia menjadi tempat tumpah rindu yang tak tahu arah.
Penampung luka.
Pelepas cemas.

Dan saat dunia bising menolak diam,
gadis perawan itu tersenyum,
memangku setiap harap dalam sajak-sajak yang patah.
Lalu hatinya berbisik lembut,
lebih tenang dari angin,
lebih sabar dari waktu: "Nana... jangan takut."

 darvis_tarung

SHM, Kupang 19 Juni 2025


Komentar