Postingan

Di Balik Pasar dan Mimpi

Gambar
  Setiap kali Jeane memandang foto itu, serasa waktu membekukan langkahnya. Wajah di dalam bingkai, seakan bisikan lembut dari masa lalu, memanggilnya kembali ke pelukan kenangan yang hangat, namun kini telah berkarat oleh kesedihan. Bertahun-tahun lamanya, Jeane merana dalam labirin ketidakpastian, menanti kehadiran sosok yang telah pergi. Sejutah harapan yang ia gantung, kini hanya serpihan kenangan yang tak lagi utuh, meresap dalam relung hatinya yang paling dalam. Di bawah sinar mentari yang terik, suara kepala sekolah menggema, membawa kabar tentang pertemuan orang tua murid. "Semua siswa diharapkan untuk menyampaikan pesan ini kepada orang tua masing-masing." Jeane mendengarnya, namun kata-kata itu terasa jauh. Di benaknya, terlintas sosok mama yang selalu sibuk, terbenam dalam hiruk-pikuk pasar, menjual sayur demi sesuap nasi. "Bisakah mama datang ke sekolah nanti?" tanyanya, meski dia tahu jawabannya. Raut wajahnya mencerminkan harapan yang samar, terp...

Dari Kana ke Kalvari

Gambar
Di tengah gemuruh tenda pesta, riuh rendah suara tamu berbaur, seakan dunia ini hanya milik mereka.   Sorak ria menanda sukacita menghiasi para tamu, menjemput kebahagiaan bagi para mempelai yang sedang beradu di pelaminan. Namun dalam jarak waktu itu, sukacita seolah-olah sirna dengan kehabisan anggur sukacita. Anggur, lambang sukacita, mulai sirna, menyalakan kekhawatiran dalam dada para pelayan. Mereka berlari, hilang dalam kesibukan, menyisakan satu pertanyaan: bagaimana menyukseskan perayaan ini? Di tengah keramaian, seorang perempuan, yang biasa dipanggil ibu, melihat kecemasan di wajah pelayan. Naluri kasihnya bergetar, mendorongnya untuk bertindak. Dalam hening, ia memanggil anaknya, berharap akan ada keajaiban. Apa maumu ibu ? Tanya sang anak memastikan keadaan ibu yang mengibah. Aku tak dapat melakukannya ibu. Saatku belum tiba. ” jawab sang anak dengan suara lembut, menyentuh jiwa yang gelisah. Ibu yang cemas akan keadaan, membalik perintah kepada para pelayan....

Nana dan Kenangannya

Gambar
  Sekian kalinya aku bersama jiwa menung dalam kesendirian. Di malam yang sunyi ini, hembusan angin menyampaikan pesan dari masa lalu—seberkas memori yang terkurung dalam hati, kini kembali teringat dengan tajam. Nana , lelaki yang kuanggap sebagai pelindung di setiap raga yang lelah, telah mengisi ruang-ruang kosong dalam hidup. Nana , namanya meluncur lembut di bibirku, seperti embun pagi yang menyegarkan, dan dikisahkan kembali oleh senja. Setiap kali Nana mengantarkanku pergi, seolah Nana membawa segenap rasa nyaman. Dalam setiap detik obrolan, di setiap tawa dan canda bersama, ada kata-kata yang mengalun indah: “Enu, jangan lupa makan! Enu, tetap jaga kesehatan .” Kalimat-kalimat itu melahirkan sebuah kepastian yang tak terucapkan, sebuah harapan akan masa depan. Dalam dekapan Nana, aku merasa sebagai wanita paling beruntung. Setiap harapan dan semangatnya membakar setiap rasa lelah yang menghimpit, menjadikanku dewasa dalam setiap keputusan. Tak ada kata menyerah, bahk...

Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia dan Pesannya Untuk Kehidupan Keluarga

Gambar
  Kehadiran Paus Fransiskus di Indonesia masih hangat diperbincangkan. Berbagai media seolah-olah tak putus memberitakan tentang lawatan paus tersebut. Adalah suatu kebanggaan bagi umat Katolik di Indonesia atas peristiwa bersejarah itu. Ribuan manusia menyoraki kehadiran Bapa Paus Fransiskus dan berbagai kisah menarik yang dipoles dalam kunjungan itu. Banyak nilai yang terkandung dibalik kedatangan Bapa Suci di Indonesia sejak 3-6 september yang lalu. Salah satunya adalah perhatian bapa paus untuk keluarga-keluarga. Paus Fransiskus memiliki perhatian yang amat besar bagi kehidupan keluarga. Karena begitu besar perhatiannya untuk keluarga-keluarga, ia mengeluarkan anjuran apotolikk yang berjudul Amoris Laetitia (Kegembiraan Cinta) pada 19 Maret 2016. Dalam anjuran apotolikk tersebut, Paus Fransiskus menekankan pentingnya kasih dan kerjasama dalam kehidupan keluarga. Ia mengajak keluarga untuk membangun hubungan yang penuh cinta dan saling mendukung. Paus menggarisbawahi bahwa c...

Dari Sudut Tenggara untuk Papa Francesco

Gambar
  Bumi pertiwi diliput keharuan, merunduk dalam kesyukuran yang mendalam. Di sudut tenggara ini, aku menyaksikan pemandangan yang membekas dalam jiwa. Mata-mata yang berlinang menandakan betapa mendalamnya rasa yang dirasakan. Anakmu, anak-anak nusantara, kini tengah bergetar dalam haru dan syukur menyambut kehadiranmu. Dalam lembaran sejarah bangsa ini, nama-mu akan tertulis dengan tinta emas. Hadirmu di tengah kawanan kami, menyentuh hati dengan lembut. Aku melihat, dari sudut tenggara ini, jiwa-jiwa yang pernah rapuh kini bangkit kembali. Engkau datang membawa kesejukan yang tak terhapuskan oleh teriknya surya, menjadi berkat yang tiada tara bagi kami. Dunia mungkin heran, dunia mungkin cemburu pada kebahagiaan kami hari ini. Namun, dunia juga tahu bahwa aku dan mereka pantas merasakan sukacita ini. Pancaran jubah putihmu menerangi kegelapan, menembus keraguan yang kadang mengerikan. Ketika langkah kakimu menyentuh tanah, walau hanya dengan roda, bumiku dipenuhi sorak sora...

Coretan Sang Hamba

Gambar
  Di tengah malam yang sepi, di bawah langit yang berhiaskan bintang-bintang seperti permata tersebar, seorang pemuda duduk dalam kesunyian. Tempatnya adalah ruang yang dikuasai oleh cahaya temaram lampu minyak dan tumpukan buku harian yang telah lama menunggu untuk ditulisi. Ia adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, dibesarkan dalam bayang-bayang saudara-saudaranya, dan telah lama merasakan kehampaan yang melingkupi hidupnya. Sejak kecil, hidupnya adalah simfoni yang dimainkan oleh tangan orang lain. Dia diarah, diatur, dan dinilai oleh ekspektasi orang-orang di sekelilingnya. Keluarganya menetapkan jalan yang harus dilaluinya, dan dia pun berjalan di jalur yang telah ditentukan, meski hatinya merasa seperti terkurung dalam penjara yang tak tampak. Di luar sana, hidupnya dipenuhi oleh aturan dan batasan, dan dia pun belajar untuk mengabaikan bisikan batinnya sendiri. Namun, saat dia menapaki usia dewasa, sesuatu dalam dirinya berubah. Rasa penasaran membuncah dalam diri pe...

Perjumpaan Yang Mengukir Rasa

Gambar
  Aku tak menyalahkan perjumpaan. Aku hanya mengakui bahwa perjumpaan itu meninggalkan rasa yang terukir di dalam lembah waktu yang pergi. Tak ada yang bisa kuanggap salah dari perasaan yang kadang mengganggu dalam setiap sunyiku. Kini, rasa itu kembali bersemi, seolah menghidupkan kembali memori yang terpendam sejak Februari—ketika waktu jumpa itu pergi. Nana, nama yang sebelumnya tidak aku kenal, kini terpatri dalam memori ingatan melalui sebuah lagu yang tak terlupakan, sebuah reques dari akhir waktu itu. Lagu “Nera Mata Mo ” menggema seakan aku terperosok dalam perangkap perasaan yang diciptakan Nana. Suaranya yang lembut dan melodi yang menyentuh seolah menelanjangi jiwaku. Saat Nana memintaku untuk menyanyi bersamanya, kesempatan itu menjadi jembatan untuk mengenang rasa yang terpendam. Februari telah berlalu, seperti halnya kenangan yang pernah diukir. Namun, ternyata tidak semua yang hilang benar-benar lenyap. Agustus mengingatkan aku kembali pada lagu dari Nana, dan ...

Di bawah Cahaya Senja

Gambar
Aku menyusuri pantai, tempat kisah kita berlabuh. Di sini, di tepi laut yang tak pernah lelah mengulang cerita, aku mengenalnya. Di sinilah aku merasakan jatuhnya rasa, seperti hujan lembut yang turun perlahan dari langit. Selama bertahun-tahun, rasa itu menggema dalam relung jiwa, menyisakan jejak yang dalam, menetes pada pasir putih kenangan. Aku pernah berlabuh dalam janji-janji kata, "Aku tak akan pergi." Namun kata-kata itu seperti pasir, hilang ditelan ombak yang tak pernah henti. Kehilangan Jack membuatku terjaga dalam labirin pertanyaan tentang arti rasa. Apakah rasa hanya sekadar kebersamaan semu, yang kini lenyap bersama hembusan angin? Aku terjerat dalam rasa yang kini semakin memudar, seperti lukisan pudar yang terpapar sinar matahari. Jack, pelindung rasa, kini menjadi bayang-bayang dari rasa saat bersama. Keberadaannya dulu seperti perisai yang melindungi aku dari kesepian. Namun kini, kepergiannya adalah noda dalam kanvas yang tak bisa kuhapus. Perpisahan...

Janji Yang Pergi

Gambar
Malam menari dengan lembut di langit desa, membalut bumi dalam jubah hitam yang tenang. Desa kini kembali dilingkupi keheningan yang menenangkan. Hanya suara radio tua dari rumah bapak RT yang membasuh telinga menemani bincang malam kami. Para bapak berkumpul di pendopo rumah bapak Johan, mendiskusikan siapa yang akan mereka pilih dalam pilkada mendatang. Mereka membicarakan calon-calon yang mempromosikan diri dengan janji-janji manis. Sementara di sudut lain, para ibu melantunkan syair-syair lembut, mengiringi tidur anak-anak mereka dalam damai yang samar. Desa ini, yang sudah berdiri sekian lama, penuh dengan harapan dan impian yang belum juga terwujud. Ingatan penduduk masih segar tentang janji-janji yang diucapkan oleh calon pemimpin yang kini duduk manis di kursi empuk. “Ketika saya menang, apapun kebutuhan dari bapak/ibu sekalian akan saya penuhi,” begitulah janjinya. Tapi, janji-janji itu hanya tinggal kenangan belaka. Kini, harapan-harapan tersebut tinggal menjadi nostalgi...

Oa

Gambar
Senja menarik diri ke pertiwi. Bekas tapaknya tercatat dalam buku harian. Aku yang lelah hari ini, menuai keindahan senja yang pergi. Tak kusadari waktu bersama senja begitu lama. Sederet kisah dan kenangan menghiasi waktu senja yang kini pamit. Aku merenung dalam deretan peristiwa itu, tentang aku yang tak berharga. Aku tak berarti. Dan aku yang kini. Buku refleksi yang aku tulis setiap ujung senja, mengingatkan aku tuk terus mengoreksi diri. Setiap lembaran buku refleksi terlampir rapi, aku yang hari ini. Kini senja kembali mengingatkan aku pada sederetan kisah silam. Refleksi kecil yang aku tulis bersama nostaligia rasa waktu itu. Tak terasa waktunya dua tahun kini teringat kembali dalam sajak-sajak senja. Halaman demi halaman aku buka lembaran refleksi itu. Tiba-tiba aku berhenti pada judul yang sempat aku tulis; Oa . Penasaran mendiami seluruh diri. Ah tulisan apa ini? Batin menggoda untuk lirik lebih jauh. Aku membaca kata demi kata, bait demi bait dan akhirnya satu hal...

Juli Yang Pergi

Gambar
Rehat adalah aku yang kini dan disini. Rehat adalah aku yang menikmati kini di sini. Sepanjang jalan kutenun cerita  Suatu saat nanti kan berkisah lagi. Sepanjang jalan-jalan kerikil  Terlampau ingatan "aku yang akan seperti ini". Langkah memang agak prihatin, Namun doa lebih pasti. Tak dapat pergi sebelum "aku sperti ini". Aku hanya Rehat menarik remah-remah  Aku yang berharap. Ahhhhhh.....coretan ini tak ada maknanya.  Yahhhh.... Aku yang pergi untuk melangkah  Agar aku seperti ini... Juli akan pergi Telah mengisahkan jejak-jejak sejarah.  Dalam naung waktu  Ada sederet mimpi telah dan sedang digapai. Juli akan pergi Waktu dan kisah terus berlanjut. Sebab Juli meninggalkan "Aku yang kini" Waktu mendatang "aku yang seperti ini " Kini Aku yang berharap Dan  Bermimpi  Dalam waktu dan ceritaku. darvis_tarung  Ntaur, 30 Juli 24

Warna-warni Rasa

Gambar
Terukir kisah di lembaran waktu,  Dalam jejak langkah yang tak pernah jemu.  Setiap detik berlalu,  menyimpan cerita tentang cinta, harapan,  dan asa yang membara. Terukir kisah di relung hati,  tentang tawa dan tangis, yang kita jalani.  Dalam pelukan hangat dan senyum tulus, Kita membangun mimpi,  dalam genggaman yang kuat. Di balik senja yang memerah di ufuk barat, Terukir kisah tentang harapan yang tak pernah surut, Dalam setiap pelukan, dalam setiap tatapan, Kita jalin cerita tentang cinta yang abadi. Terukir kisah di bawah langit luas, Di antara bintang-bintang,  yang menyaksikan janji, Dalam setiap doa, dan bisikan lirih, Kisah kita terukir, dalam hati yang tulus mencintai. Dalam buku kehidupan,  terukir kisah kita, Halaman demi halaman,  penuh makna, Dengan tinta cinta, dan warna-warni rasa, Terukir kisah abadi, tentang kita dan Dia. By: Sr. Endang CIJ

JIKA TAK PANTAS

Gambar
Oleh: Maria M. K. Kalang Jika tak pantas  Pergilah Jangan lagi tinggal Hanya untuk disakiti Jika tak pantas Mengapa bertahan?  Dengan luka yang memar Jika tak pantas Untuk apa setia?  Yang pada akhirnya hanya khianat yang tinggal Jika tak pantas Untuknya Jangan lagi sia-siakan baikmu Pergilah Masih ada yang pantas untukmu Dan Kamu pantas Tanpa harus bertahan Tidak ada yang tak pantas Kamu pantas Sekalipun dunia berkata; kamu tak pantas Jakarta, 27 Juli 2024

Dingin; K(s)opi ada di sini

Gambar
Aku ada di sini. Yahhhh. Disini. Dingin menusuk tajam. Seolah bumi kehilangan hangat.  Tak ada percikan sinar surya.  Tak ada tanda hangat menyentuh.  Aku ada disini. Awan berlomba dengan gerimis.  Menyelimuti aku yang ada di sini. Aku dan aku ada disini Menikmati aku yang dingin. Surya seolah-olah lari dari bumi. Terik yang dulu ada seakan tak bersahabat lagi dengan bumi. Aku ada disini.  Menikmati kopi pait , Hilangkan aku yang dalam kedinginan. K(s)opi ada disini.  Ntaur, 24 Juli 2024

Tuhan Minta Belis?

Gambar
Aku baru saja menanggalkan jubah dan belum sempat aku gantung pada lemari sakristi setelah misa minggu sore. Tiba-tiba seorang gadis menjumpaiku. Wajahnya sedikit kebingungan entah apa yang ia pikirkan. Eferrrr....boleh bicara sebentar? Katanya membuka percakapan. Boleh dik...tunggu sebentar ya...Frater beresin ini dulu, adik tunggu di lopo ya... jawabku sambil membentulkan jubah yang barusan hendak aku masukan kedalam lemari. Aku tak habis pikir, tak biasanya orang jumpai aku sehabis misa apalagi dia seorang gadis.  Setelah aku membereskan jubah dan semua perlengkapan misa, aku bergegas menjumpai gadis itu di lopo pastoran. Lopo adalah tempat untuk menerima tamu. Halo dek...bagaimana kabarmu?  Ia seolah-olah kaget dengan kedatanganku. Ahh kak efer...buat kaget saja...maaf efer aku lagi keasikan balas chat WA teman-temanku. Aku kabar baik kak...kalau kakak efer? Tanyanya balik. Yahhh tidak apa-apa, aku kabar baik juga. Jawabku singkat. Maaf ya kak efer, mengang...