Tuhan Minta Belis?
Aku baru saja menanggalkan jubah dan belum sempat aku gantung pada lemari sakristi setelah misa minggu sore. Tiba-tiba seorang gadis menjumpaiku. Wajahnya sedikit kebingungan entah apa yang ia pikirkan. Eferrrr....boleh bicara sebentar? Katanya membuka percakapan. Boleh dik...tunggu sebentar ya...Frater beresin ini dulu, adik tunggu di lopo ya...jawabku sambil membentulkan jubah yang barusan hendak aku masukan kedalam lemari. Aku tak habis pikir, tak biasanya orang jumpai aku sehabis misa apalagi dia seorang gadis.
Setelah aku membereskan jubah dan semua perlengkapan misa, aku bergegas menjumpai gadis itu di lopo pastoran. Lopo adalah tempat untuk menerima tamu.
Halo dek...bagaimana kabarmu?
Ia seolah-olah kaget dengan kedatanganku. Ahh kak efer...buat kaget saja...maaf efer aku lagi keasikan balas chat WA teman-temanku. Aku kabar baik kak...kalau kakak efer? Tanyanya balik.
Yahhh tidak apa-apa, aku kabar baik juga. Jawabku singkat.
Maaf ya kak efer, menganggu waktu dari kaka efer. Tidak apa-apa kan ya kak?
Oh tidak apa-apa kataku...mungkin kamu mau sampaikan sesuatu yang penting sekali.
Kak aku mau cerita dengan kak efer....bolehkah?
Begini kak. Entah kenapa hari-hari ini aku seakan-akan berdebat dengan diriku sendiri. Aku binggung soal pilihan hidup. Kenyataannya aku dihadapan dengan berbagai pilihan. Papa dan mama justru memilih jalan lain untukku. Aku kadang tak pernah ke rumah hanya takut debat dengan papa dan mama. Apa yang mama dan papa pikirkan tak sesuai dengan pilihanku.
Ia cerita panjang lebar tentang situasi keluarganya. Tak terasa air mata membasahi pipi gadis itu. Ia seolah-olah mau teriak meratapi keadaan yang ia alami saat ini. Aku diam mendengar keluh gadis itu. Aku membiarkannya membongkar segala kepenatan yang ia alami. Aku tahu, gadis ini harap didengarkan.
Ia mengusap air matanya dengan tissue dan ia mulai bernarasi kembali tentang hidupnya.
Kak Efer.... aku kadang binggung dengan hidup ini. Aku seolah-olah berada di simpang jalan buntu kemana lagi aku akan pergi. Orang tua yang aku harap sebagai pendengar namun justru menimbulkan jejak-jejak rasa tak menggembirakan bagiku. Aku tahu mereka memikirkan yang terbaik untukku namun mereka tidak memahami keadaanku.
Setelah sekian lama aku tinggal di asrama susteran, aku tertarik untuk menjadi suster. Mungkin ini sebuah pilihan buntu sebab aku tidak tahu harus kemana lagi. Aku sadar bahwa disini didengarkan dan bahkan semua orang suport saya. Ketika aku mengatakan kepada papa dan mama justru mereka menolak. Belis seolah-olah diujung pilihan mereka. Ahhhh aku harus bagaimana????? Kadang aku diam memikirkan tentang pilihan ini.
Waktu yang memotret setiap derapku.
Sebelumnya aku mengenal dengan seorang lelaki. Ia sangat pengertian dan mendengarkan aku. Aku nyaman dengannya hingga memudarkan niatku untuk masuk suster. Tapi rasa nyaman itu sesaat saja. Nyaman itu pergi saat ia harus memilih untuk berjubah. Aku sangat mencintainya namun aku juga sadar biar ini sekadar mengagumi saja tak harus memiliki.
Semua itu turut membebani setiap pilihan hidup saya. Ia pergi dan bahagia dengan pilihan itu. Aku justru kehilangan dan bahkan ada dalam tanya kemanakah aku akan melangkah? Aku di jalan buntu. Orang tua lebih harap belis dari pada merelakan aku menjadi suster. Ahhhhh.....apakah Tuhan juga minta belis??????
Gadis itu sejenak hening sambil mengusap air mata yang menjadi saksi kisahnya.
Setelah beberapa saat aku mulai bertanya kepadanya: adik betul mau jadi suster?
Ia kak.....tapi......
Yah aku tahu kegelisahanmu, jawabku.
Memilih pilihan hidup adalah suatu keharusan. Bagaimanapun setiap orang harus memilih pilihan hidupnya sebagai jalan kemana ia akan melangkah. Orang tua pasti memikirkan yang terbaik untuk anaknya dan kadang ada perbedaan pandangan antara orang tua dan anak. Maka penting adalah membangun komunikasi yang baik. Orang tua pasti memahami anaknya bila ada keterbukaan dari sang anak. Orang tuamu memikirkan belis, mungkin itu hanya dipikiran mu bukan pikiran orangtuamu.
Apakah Tuhan minta belis?
Soal belis, Tuhan tidak pernah meminta belis tetapi justru Ia "membayar belis" mu. Belis dari Tuhan bukan kerbau, sapi, kuda, emas dan barang belis lainnya. Ia memberi kelimpahan anugerah seperti nafas, udara, air , kesehatan dan lain sebagainya.
Satu lagi, menjadi seorang biarawan atau biarawati itu bukan suatu pelarian. Segala pilihan hidup adalah baik, entah di panggil sebagai ibu rumah tangga, guru, pegawai,petani dan berbagai profesi lainnya. Menjadi seorang suster itu butuh kesiapan dan penyerahan diri. Bukan soal kamu nyaman atau tidak. Menjadi suster itu justru kamu harus keluar dari zona nyamanmu. Pikirkan baik-baik pilihanmu. Setiap pilihan tak mudah seperti perasaan senang yang kamu alami saat ini. Satu hal yang saya minta kepada adik untuk melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan sebelum dirimu memilih suatu pilihan.
Waktu tak terasa, Kini senja sudah pamit ke pertiwi. Seorang karyawan sudah menyalahkan lampu taman pastoran. Cerita dengan sang gadis berujung saat lonceng Angelus sore berkumandang dari candi gereja. Gadis itu pergi serasa ia tenang...
Darvis_tarung
Kupang, 14 Juli 2024
Komentar