Dari Kana ke Kalvari
Di tengah gemuruh tenda
pesta, riuh rendah suara tamu berbaur, seakan dunia ini hanya milik mereka. Sorak ria menanda sukacita menghiasi para
tamu, menjemput kebahagiaan bagi para mempelai yang sedang beradu di pelaminan.
Namun dalam jarak waktu itu, sukacita seolah-olah sirna dengan kehabisan anggur
sukacita. Anggur, lambang sukacita, mulai sirna, menyalakan kekhawatiran dalam
dada para pelayan. Mereka berlari, hilang dalam kesibukan, menyisakan satu
pertanyaan: bagaimana menyukseskan perayaan ini?
Di
tengah keramaian, seorang perempuan, yang biasa dipanggil ibu, melihat
kecemasan di wajah pelayan. Naluri kasihnya bergetar, mendorongnya untuk
bertindak. Dalam hening, ia memanggil anaknya, berharap akan ada keajaiban.
Apa maumu ibu?
Tanya sang anak memastikan keadaan ibu yang mengibah.
Aku
tak dapat melakukannya ibu. Saatku belum tiba.” jawab sang anak dengan suara
lembut, menyentuh jiwa yang gelisah.
Ibu yang cemas akan
keadaan, membalik perintah kepada para pelayan. “Siapkan kentong, galon, cerek,
gayung dan semua tempat dan isilah dengan air sampai penuh.
Apa? Engkau menyuruh
kami menyiapkan semua tempat untuk menyimpan air. Apakah engkau tidak tau,
sekarang kami kewalahan anggur bukan air. Jawab seorang
pelayan yang penuh dengan tanda tanya.
Tetapi perempuan itu tak peduli, keyakinannya menggelora. Dalam sekejap, air mengalir penuh di tempat yang disiapkan, dan keajaiban menyapa. Air itu berubah menjadi anggur manis, memuaskan dahaga sukacita. Para pelayan terheran, dan tenda itu terisi desas-desus kagum sebab tak pernah terjadi seperti ini di Kana. Perkawinan di Kana menjadi tonggak sejarah sebuah kemuliaan terjadi di atas bumi.
“Ah,
ini anggur yang tiada tara, jauh lebih manis dari yang pernah kita cicipi!”
suara riang mengalun di tenda pesta. Cerita tentang anggur yang manis itu
tersiar diseluruh negeri, sebab tak pernah dirasakan anggur seperti itu
sebelumnya.
Ibu yang ibah itu, penuh
bahagia menyaksikan sang anak yang mampu membahagiakan segenap tamu undangan
yang hadir.
***
Sukacita
sang ibu sirna tat kalah menyaksikan sang anak yang jalan menuju Kalvari. Batu
karang nan cadas menghiasi derap langkah kaki sang anak. Hati yang sukacita
beralih menjadi dukacita. Sebuah kepasrahan dan penuh tahan akan sakit yang
dirasa. Di sana, langkah sang anak berderap di atas batu-batu tajam, hati ibu bergetar,
sukacita di Kana kini menjadi duka yang menyayat. Ia menyaksikan, terbelenggu
dalam hening yang pekat, setiap cambukan menjadi jarum tajam menusuk sanubari.
Kini jiwa sang ibu
menerobos dinding sunyi, menyaksikan sang anak tersayang disakiti. Berapa lama
ia menahan sentakan, dalam jiwa yang terbelenggu, terhunus, tertusuk pedang
menuju nurani. Raganya tak tahan menahan amarah. Matanya tak mampu membendung
air mata kesakitan. Ia terbatah untuk berkata, hanya saja ia harus menyaksikan
pengasingan sang anak.
Hati ibah sang ibu yang
penuh sukacita di Kana, kini di Kalvari menyaksikan perih dan sedih menusuk
jiwa yang beraroma rintihan dan tangisan. Di Kana perempuan yang di panggil
ibu itu, penuh ceria menatap sukacita para tamu pesta. Di Kalvari perempuan
itu, penuh haru dalam menatap bisu menyaksikan jiwa anaknya yang tak berontak.
Perempuan itu di kenal
dengan hati tegar, menahan peri dan sakit melihat anak tersayang melayang di
atas batu cadas yang tajam. Setiap cambukan ada jiwa yang merintih, namun
perempuan itu tak lari.
Perempuan itu pasrah
pada keadaan namun tak meninggalkan sang anak sendiri. Ia meratapi sang anak
yang sedang berjalan menuju tempat tengkorak, sebab di sana perempuan itu tahu
ada jiwa yang lepas dan pergi. Perempuan yang disebut ibu itu bersaksi atas
rasa sakit, menghiasi perjalanan sang anak dari kota ke Kalvari, tempat
terakhir; jiwa anaknya pergi.
Dari Kana sukacita, kini
ia berada di Kalvari dukacita.
Disana suara penuh haru
dari anak menyapa para sahabat; Ibu, Inilah anakmu,
Kepada yang dikasihinya
ia berkata; Inilah ibumu.
Jiwa pergi kata
perpisahan memecahkan kegelapan awan; SUDAH SELESAI.
darvis_tarung
Kupang, 9 Otober 2024



Komentar