Nana…… Enu Ingat
Nana……
enu Ingat
Senja membawaku tuk berenung. Diujung langit diakhir mentari. Ufuk barat memerintah mentari tuk kembali sembari melepas berbagai jejak di hati. Kududuk didepan teras dengan secangkir penyemangat diujung senja. Tentu bukan lain secangkir kopi manis semanis nona Manggarai. Sembari ibu jari mengais-ngais sebuah layar mini yang mengantarku tuk kenang memori lama bersama si dia. Tampak wajah ditayang dibalik layar mini itu, si enu yang pernah ku ukir kisah. Wajah yang tak asing namun telah mengukir banyak rasa. Ribuan kisah yang dulu membuat aku kembali berpikir tentang waktu itu. Si enu sahabat baikku yang telah beri banyak harapan dimasa silam untuk di rajut dimasa depan……katanya.
Tak lama pesan singkat muncul . selamat sore Nana…apa kabar?
Aku tidak tahu siapa yang kirim pesan ini untukku. Kulihat notifikasi masuk… ahhhh, ternyata si enu yang sedang kupikir mengirim pesan untukku. Sedikit perkenalan tentang si enu yang ku kenal. Seorang gadis manis,bertubuh ramping,rambut lurus,hidung mancung, dan suka olaraga bela diri. seorang gadis baik yang tak tertanding dengan yang lain. Cantiknya jika dikecap tak semanis kecap asli. Seperti malaikat yang selalu melekat. Jiwanya sosial mungkin karena dulunya jurusan sosial. Ia suka berbagi namun tak pilih kasih. Hhhhhhh mungkin berlebihan perkenalannya tapi sudahlah.
Namanya Dianiva. Namun sering ku panggil enu. Enu Dianiva ku kenal tiga tahun lalu ketika aku dan dia bersama-sama meraih mimpi di sebuah sekolah menengah negeri di kotaku.
Pesan yang dikirimnya pada beberapa menit yang lalu belum juga aku balas. Pesan dari enu membuat aku teringat pada kisah kami di pohon kesambi di halaman sekolahku.
Selamat pagi nana apa kabar? Itulah kata-kata pertama saat pertama kali aku dan dia bertemu setelah aku kirim sebuah surat kasih untuknya.
Tak ku sadari aku dan enu sudah tiga tahun merajut dalam perasaan yang sama. tentu ribuan kisah yang telah terkiprah, jutan kata-kata yang di rangkai bagaikan tangkai mawar menawarkan pesona bungga yang mengundang banyak madu tuk menghampiri. Memori lama terus ku bongkar, ku temukan ribuan bingkisan sisipan kisah yang terlampir cantik.
Sambil menarik secangkir si manis, ku rasa, dan ku sadar, wahhhhh aku lupa balas pesan dari enu.
Io enu ewm…selamat sore enuq…nana disini kabar baik nu… bgimana den enu??????
Dengan sisipan panjang tanda tanya ku tanya kabar si enuQ.
Sepuluh menit berselang entah karena apa si enu lama membalas pesan ku, aku tidak tahu.
Nana….e enu kabar baik juga ewm, nana sa ingat nana eee… kapan nana libur?
Aduh,,, enu ingat saya…ahh memang Tuhan pu rencana baik ju. “aku sekarang ju ingat enu ooo tapi nana tidak libur ewm enu” balas ku. “ae kenpa ge nana? Jawabnya mungkin agak tak percaya.
Enu saya pindah ke Cina su ewm… saya pindah di tempat kerja yang baru sue nu…enu tahu tidak saya kerja di perusahan pembuatan hp ewm enu. Enu…. nanti kalau nana su ada di sana nana akan buat hp yang paling cangih untuk enu. Biar kalau enu ingat deng nana enu tinggal klik di layar hp-nya enu saja. Nanti nana langsung ada di hatinya enu……
Ooohh Tuhan akankah??? Dan sampai kapan rindu ini Tuhan?? Enu….enu….enu… tunggu sa enu eee
by: Darvis Tarung

Komentar