Batas Hening
By; Yuki Levinda
Dalam penjuru pikiran, sang penjelajah gelisah,
Pelayan Tuhan atau kekasih hati
Dalam labirin ragu, tak terlukis jawaban,
Dia, pengembara jiwa, memandang ke langit tinggi.
Bertanya pada bintang, cerita hatinya terurai,
Antara panggilan roh dan cinta yang menggoda,
Hening malam pun menyisakan teka-teki,
Apakah yang benar, di mana jalannya lurus?
Matahari terbenam, memeluk bayang senja,
Dalam keraguan terpilih, sang hati terbelah,
Seraya menangis di depan altar diam,
Doa memohon petunjuk, menyatu dalam ziarah.
Pertempuran batin, bagai badai tak berujung,
Harta dunia atau janji surga,
Rahasia diri terkunci dalam kebimbangan,
Langit terdiam, mengawasi perjalanan hati.
Puisi abstrak ini melukiskan perjalanan yang sulit,
Di persimpangan antara roh dan duniawi,
Tak ada kata yang terucap, hanya getaran hati,
Sang penjelajah takdir, mencari jawaban abadi.
Panggilan yang suci atau belahan jiwa dunia,
Sang pemburu petunjuk merayap ke dalam doa,
Terombang-ambing di lautan keputusasaan,
Mengharap sinar petunjuk dari sumber Ilahi.
Kisah tanpa kata, melodi hening malam,
Keheningan meneropong getirnya keraguan,
Panggilan atau pelukan, di mana tujuannya?
Bukan terang yang menuntun, melainkan pertarungan jiwa.
Dalam ketidakpastian, sang pencari makna,
Mendekap doa pada rahasia langit yang misterius,
Gelombang pikiran bergulung, tiada henti,
Apakah jawaban itu terukir di pohon takdir?
Puisi ini berlabuh di tepi kebimbangan,
Bagaikan sungai yang mengalir dalam keraguan,
Antara garis halus pelayanan atau kekasih dunia,
Sang penjelajah merintih pada keheningan abadi.
Komentar