Dunia (milik) Sang Gadis

Aku seakan terasing dari dunia. Hari demi hari yang kulalui seakan meninggalkan jejak-jejak penat, hampa dan asing. Aku berjalan diatas beling-beling kenyataan hidup yang meninggalkan luka dan perih. Keringat dalam kepasrahan, sebuah konsekwensi dari pilihan.
Kadang aku tak mengerti dengan dunia yang semakin payah. Banyak jiwa yang kelana menyuusuri sulitnya tapak-tapak ini. Ini sebuah kenyataan yang mengganggu sekaligus merenggut kebahagiaanku. Kini aku berada disimpang pilihan. Merasakan perih untuk menentukan putusan. Tapi kadang aku tidak mengerti, inikah jawaban dari sebuah pilihan awal yang kadang meninggalkan sajak-sajak pertanyaan.
***
Semester hidup yang semakin naik menuntut pikiran ekstra lagi dewasa. Aku berada diambang pintu persoalan yang memang aku sendiri harus bertanya seribu kata; apakah semuanya ini? Akhir-akhir ini aku lelah. Bahkan menguras tenaga dengan ketidakpastian jawaban. Tugas kuliah yang semakin bertubi-tubi, belum lagi jumpa dengan jiwa-jiwa yang sama-sama meratapi kegelisahan. Aku pikir hanya aku saja yang mengalami kehampaan yang seperti ini. Sekian kali aku harus bolak-balik kampus, konsultasi tugas akhir, tak ada kepastian jawaban, hanya kalimat biasa yang terdengar; maaf hari ini ibu lagi sibuk. Nanti baru datang lagi ya…. “Akan ku ambil dari mana ongkos maxim besok?”, batin menyapa.
Kepasrahan tidak mungkin demi titel sarjana. Berjuang dengan segala daya usaha untuk menyelesaikan tugas ini adalah kepastian yang harus aku lalui. Sabar dan setia adalah kata-kata yang selalu muncul diberanda nasehat kawan-kawanku. Yahhh ini sebuah jalan yang hendakku langkah.
***
Duniaku semakin pikuk dengan segala kebisingan. Aku sendiri berpikir untuk apa hidup seperti ini hanya untuk siksa diri? Sekian lama aku bergulat dengan waktu, sekian banyak pula peristiwa menakutkan melintas dalam bayang-bayangku sebagai sang gadis.
Aku pernah berpikir alangkah baiknya hidup ini tiadakan saja. Untuk apa aku harus sibuk dengan segala kelelahan seperti ini? Tujuan hidup adalah mencari kebahagiaan. Namun apakah yang aku alami adalah bahagia? Nyatanya tidak. Ratapan kekecewaan selalu notifikasi pada laman hidup yang penuh warna-warna pertanyaan; jadi apakah aku ini? Sekian kali aku dikecewakan untuk sebuah tapak. Terik surya menembus sudut-sudut pencarian yang selalu bergelut dengan waktu. Ahhh, inikah yang disebut bahagia itu? Bukankah ini sebuah persoalan yang tidak dapat dipecahkan dengan rumus kimia atau fisika apalagi matematika. Yahhh Tuhan, aku sudah diujung jalan. Alangkah baik episod hidup ini sampai disini. Ini sebuah jawaban demi kebahagiaan yang tak pernah ada dalam lembaran hidupku. Ahh dasar episod sang gadis, guman jiwa yang lelah dan letih. Akan ku akhiri, yah mungkin ini lebih baik. Aku bergegas dan siap mengakhiri episod serba tak pasti ini. Inikan yang baik. Hilang dari segala kepenatan, hilang semua ketakmungkinan, hilang semua kesibukan, hilang semua kekecewaan, hilang semua kecemasan, hilang semua lelah dan letih. Aku bahagiakan setelah semuanya. Ini keputusan yang tepat.
TIDAKKKKK!!!!!! Suara hati menggema dengan kerasnnya. Ini bukan pilihan yang terbaik. Engkau hanya mencari kenyamanan dengan berlaku seperti itu. Sesunguhnya engkau sediri yang menyusahkan hidupmu. Keputusanmu adalah kesesatan dalam cara berpikir. 
Ingatlah….hidup manusia itu bersifat absurd. Apapun yang engkau hadapi setiap hari, hendaknya dijalani dengan semangat tanpa putus asa apalagi melarikan diri. Mereka yang melarikan diri dari kenyataan adalah mereka yang memiliki mental pecundang. Menerima kenyataan hidup walaupun tanpa makna yang jelas itulah yang engkau lakukan. Hidup ini patut dijalani dan rayakan seadanya. Walaupun sulit menghadapi kenyataan yang ada, sebab hidup itu sendiri absurd tetaplah memaknai hidup itu. Hadapilah dengan berani, bahkan dengan senyum. Memaknai kehidupan sendiri, maka engkau akan bebas dalam menentukan arah kehidupannya. 
***
Kini aku sadar aku telah dihantui oleh kepasrahan. Aku telah digoda bahkan jatuh pada rasa yang senonoh ini. “engkau terlarut dalam nostalgia kecemasan dan keputus-asaan”, suara hati kembali menggema. Yahh. Ini salah. Akanku hadapi tapak-tapak ini bukan dengan putus asa tetapi menikmatinya dengan bahagia. Akanku ubah caraku berpikir, caraku bertindak dan caraku menghadapi setiap kegelisahan. Mencari makna hidup yang terdalam adalah menikmati hidup itu sendiri. Ahhhh dasar dunianya sang gadis.

darvis_tarung
Kupang, Juni 24

Komentar

@bonivantura mengatakan…
💪💪

Postingan populer dari blog ini

Musa: Pemimpin Yang Sejati

Moke: Anugerah Allah di Antara Berkat Ekonomi dan Luka Sosial

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru