Janji Yang Pergi

Malam menari dengan lembut di langit desa, membalut bumi dalam jubah hitam yang tenang. Desa kini kembali dilingkupi keheningan yang menenangkan. Hanya suara radio tua dari rumah bapak RT yang membasuh telinga menemani bincang malam kami. Para bapak berkumpul di pendopo rumah bapak Johan, mendiskusikan siapa yang akan mereka pilih dalam pilkada mendatang. Mereka membicarakan calon-calon yang mempromosikan diri dengan janji-janji manis. Sementara di sudut lain, para ibu melantunkan syair-syair lembut, mengiringi tidur anak-anak mereka dalam damai yang samar.

Desa ini, yang sudah berdiri sekian lama, penuh dengan harapan dan impian yang belum juga terwujud. Ingatan penduduk masih segar tentang janji-janji yang diucapkan oleh calon pemimpin yang kini duduk manis di kursi empuk. “Ketika saya menang, apapun kebutuhan dari bapak/ibu sekalian akan saya penuhi,” begitulah janjinya. Tapi, janji-janji itu hanya tinggal kenangan belaka. Kini, harapan-harapan tersebut tinggal menjadi nostalgia kekecewaan yang mendalam, semakin mengakar seiring berjalannya waktu.

Pilkada semakin dekat, seperti bintang yang mendekat di malam gelap. Pilkada mendatang membuat suasana desa kembali bergolak. Para calon berusaha menarik simpatik rakyat dengan spanduk-spanduk besar yang menjulang di simpang jalan, penuh dengan senyum yang cerah, seolah ingin menembus gelapnya malam. Namun, di balik senyum itu, penduduk desa tidak lagi merasakan optimisme seperti sebelumnya. Mereka telah terluka dan kecewa, terkena muslihat janji-janji palsu. Kekecewaan itu, meskipun tertutup oleh badai waktu, tetap tertanam kuat di hati setiap penduduk.

Malam itu, beberapa bapak tua duduk dalam gelap, menyisakan cahaya rembulan sebagai satu-satunya saksi. Mereka membicarakan nasib desa yang seperti terbuang di pinggir peradaban. Ketiadaan fasilitas pendidikan dan kesehatan menghantui mereka seperti bayangan yang tak mau pergi.

Tiba-tiba, teriakan minta tolong menyentak kesunyian. Suara yang menggema dalam keheningan malam. Dengan cepat, para bapak berlarian, mengikuti jejak teriakan yang meminta pertolongan. Dalam gelapnya malam, mereka hanya bisa mengandalkan naluri dan keberanian.

Ternyata suara itu milik Ibu Maria, yang tengah merintih kesakitan dalam proses melahirkan. Dalam kegelapan malam yang disoroti pelita kecil, penduduk berkumpul dengan penuh kegelisahan. Malam yang tenang tiba-tiba ramai, seperti burung hantu yang membangunkan hutan dengan teriakan ketidakberdayaan.

Tak ada puskesmas di desa, tak ada kendaraan yang bisa membawa Ibu Maria ke tempat yang aman. Jalan menuju puskesmas yang lima kilometer jauhnya adalah jalan bebatuan yang tak teratur, seperti serpihan harapan yang pecah. Dalam keterbatasan, para bapak memutuskan untuk membuat tandu dari bahan seadanya. Dengan obor sebagai satu-satunya penerang, mereka mulai menapaki jalanan berbatu, mengiringi Ibu Maria menuju puskesmas dengan penuh perjuangan.

Di bawah cahaya obor yang bergetar, setiap langkah terasa berat. Tapi di balik setiap langkah, tersimpan kekecewaan yang mendalam. Mereka berjalan bukan hanya untuk menyelamatkan satu nyawa, tetapi juga untuk mengingatkan bahwa janji-janji yang pernah diucapkan tidak pernah terwujud. Kekecewaan malam itu membakar dengan panas yang tak tertahan, seperti api yang menghanguskan segalanya. Malam itu, bukan hanya gelap karena minimnya cahaya, tetapi juga gelap karena ketidakadilan dan ketidakpedulian yang dirasakan oleh penduduk desa.

Di tengah perjalanan yang penuh perjuangan, rasa frustrasi semakin mendalam. Para bapak merasa seolah-olah janji-janji yang pernah disampaikan oleh calon pemimpin hanya menjadikan mereka sebagai alat politik belaka. Terbayang jelas di benak mereka betapa indahnya janji yang pernah terucap, betapa bersemangatnya mereka menyambut pemimpin yang katanya akan membawa perubahan. Namun, pada kenyataannya, mereka masih harus berjuang sendiri, berhadapan dengan kekurangan dan ketidakberdayaan.

Malam itu, bukan hanya Ibu Maria yang melahirkan dengan penuh perjuangan, tetapi juga harapan penduduk desa yang sepertinya harus melahirkan kembali dengan penuh perjuangan. Mereka berjuang dalam gelap, menantikan hari esok yang mungkin membawa perubahan—atau setidaknya, sedikit keadilan di tengah kegelapan yang menyelimuti.

Desa kami, yang seharusnya menjadi saksi dari kemajuan dan kesejahteraan, kini hanya menjadi cerminan dari kekecewaan yang mendalam. Kekecewaan yang melawan gelapnya malam, menghadapi janji yang telah lama pudar dan menunggu kepastian yang entah kapan akan datang.Top of Form

darvis_tarung

Kupang, 28 Agustus 2024

Top of FormBottom of Form

 

 

Komentar

Anonim mengatakan…
Terbaik sllu Nn fr

Postingan populer dari blog ini

Musa: Pemimpin Yang Sejati

Moke: Anugerah Allah di Antara Berkat Ekonomi dan Luka Sosial

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru