Mengenang Sosok Yang Murah Hati
Hari ini, setelah misa
pagi, hati saya dibuat terkejut. Saya membuka HP dan satu pesan singkat dari
adik saya Darman yang memberi kabar buruk di pagi yang cerah "Rowa
hia Om Eman eeeee..."
Saya terdiam. kaget. Tak pernah saya dengar kabar beliau sakit. Tak ada tanda.
Tak ada isyarat. Tiba-tiba, kepergian itu datang begitu senyap—seperti beliau
sendiri: diam, tenang, tapi selalu bermakna.
Tiga
tahun saya tinggal bersama (walau tak serumah) dekat rumahnya di Jawang. Dalam keseharian
itu, saya mengenalnya lebih dari sekadar seorang Bapa Ezzy. Ia akrab di sapa Ema
de Joko, oleh Om Marsel. Saya sendiri sering memanggilnya Om Ezzy. Banyak cerita
dan kisah yang saya alami selama tiga tahun itu. Dari semua kenangan, ada satu
kalimat sederhana yang tak pernah lekang:
“Nana,
mai inung kopi de…”
Kalimat itu bukan sekadar ajakan minum kopi. Itu adalah undangan untuk masuk
dalam kehangatan, dalam kebersamaan, dalam cinta yang tidak berkata-kata tapi
terasa sampai ke relung jiwa.
Sore-sore suatu pekerjaan yang pasti di rumah adalah Keru
Elong (iris batang pisang). Saat itulah kerapkali kata “nana Mai inung kopi
de” selalu saya dengar. Banyak kesempatan kami menikmati kopi mane sambil
keru elong. Dalam banyak kesempatan, kebiasaan saya setelah makan malam, saya
bertamu di rumah sebelah (Rumah beliau). Kopi menjadi teman yang selalu bersama
saat ceritapun mulai. Om Eman tidak
banyak omong namun setiap kata yang keluar dari mulutnya punya makna yang luar
biasa. Beliau sangat rendah hati dan sangat dekat dengan siapa saja. Bagi mereka
yang pernah ada dan tinggal bersama beliau, pasti sangat merasakan kasih sayang
dan perhatian yang luar biasa.
Pada beberapa
kali saya libur, saya selalu kunjung ke rumahnya (karena memang rumah sangat
dekat). Kata-kata “nana Mai inung kopi de” tidak pernah hilang. Percakapan
yang hangat dan ujung-ujungnya adalah motivasi yang mendalam. “nana sekolah
dia-dia, meseng coon neng cala jadi koe tai….” Kata-kata itu kelihatan
sederhana namun tersirat sebuah doa yang mendalam….. doa yang menjelma harapan,
yang menjelma restu, yang membentuk semangat saya untuk tetap berjalan dalam tapak-tapak
ini.
Kebersamaan dengan
beliau banyak makna hidup yang dapat saya petik. Kata-kata dan tindakannya
menjadi kamus hidup tempat semua orang yang pernah bersamanya belajar lebih
banyak.
Terimakasih amang
momang, bahagia bersama Para Kudus di Surga.

Komentar