Postingan

Musa: Pemimpin Yang Sejati

Gambar
Sebuah Refleksi atas teks Bilangan 11:4b-15 Di setiap momen menjelang pemilu atau pilkada, tidak se dikit orang berbondong-bondong mencalonkan diri untuk merebut kekuasaan sebagai pemimpin. Pada saat itu pula, berbagai gagasan diutarakan dan dilempar kepada para pemilih dengan daya tarik yang kuat, dipoles dengan kata-kata memesona. Janji-janji manis tidak pernah absen dari setiap mulut para kandidat. Tak kalah menarik, setiap pasangan calon (paslon) membuat poster-poster besar dengan slogan-slogan yang memukau, seperti “Siap kerja bersama rakyat” atau “Mendengarkan suara rakyat.” Begitu indah bait-bait narasi itu hingga rakyat pun kebingungan harus memilih siapa, sebab semua janji terdengar mengesankan. Setelah pemilihan usai, bersyukurlah bagi yang menang, dan tersungkurlah yang kalah. Namun kerap kali, saat seseorang resmi menjadi pemimpin, narasi-narasi indah yang dulu diperdengarkan perlahan memudar. Rakyat mulai lelah menagih janji yang tak kunjung ditepati. Tak jarang kita...

Jatuh Cinta Dengan Milik Tuhan

Gambar
  Aku, yang tak pernah bersahabat dengan perjumpaan, kini terpaksa menghadapi denyut aneh di hatiku. Khatulistiwa rasa, tempat di mana senyumnya menghangatkan jiwa, meski dia hadir dalam misteri. Ini adalah sebuah pelayaran tanpa kompas, di antara kebencian dan kerinduan. Ada rasa yang terjalin di antara dua hati, tak bisa kupungkiri. Meski pernah ada jejak kehilangan yang menggores luka, dia datang membawa seberkas harapan. Namun, benarkah semua laki-laki itu sama? Dengan senyum manis dan langkah ringan, ia melintas di hidupku, mengingatkan pada semua rasa yang pernah menyakitkan. Tapi tidak, dia bukan sekadar bayangan. Dia adalah misteri yang membangkitkan rindu mendalam, seakan Tuhan menaruhnya di sini untuk menyembuhkan segala duka. Kisahku, yang terjalin dalam kehadirannya, terhampar dalam narasi waktu. Di antara riuh dan gemuruh, aku menemukan kenyamanan. Dalam percakapan yang ringan, aku ceria, seolah dunia milik kami berdua. Satu kebetulan indah: kami berdua merangkai k...

Doa Enu

Gambar
  Malam begitu sepi. Tidak ada suara yang menemani waktu malam ini. Hanya seberkas cahaya yang muncul di balik pohon angsono yang daunya gugur di bulan Juli. Butir-butir rosario ku genggam erat, menghiasi setiap tapak kakiku menuju gua Maria. Ini adalah kebiasaanku—kami para anak seminari—setelah makan malam, kami mengambil waktu pribadi untuk mendaraskan doa rosario. Kami percaya bahwa kekuatan dari Sang Bunda mampu menjawab setiap kegelisahan hidup. Malam seolah-olah bercerita pada angin tentang anak manusia yang terus berharap dan bertekuk. Aku merasakannya. Setiap langkahku seperti mengetuk pintu langit, seolah menyampaikan bahwa ada seseorang di bumi yang datang membawa gundah. Malam berbisik lembut, menyambutku, menenangkan. Kata-kata Kitab Suci terlintas begitu nyata: “Datanglah kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan.” Langkahku terhenti saat sampai di depan gua. Nyala lilin-lilin tak pernah padam, memantulkan cahaya yang membuat waj...

Nunuh Amasat; Kabar Yang Hilang

Gambar
Malam kembali mengetuk jendela, membawa dingin yang menceritakan kehilangan— sejak kau pergi minggu lalu, dan tak satu pun kabar menyusul langkahmu. Katamu: "Aku berada di Nunuh Amasat, tempat sunyi bersemayam. Di sana, hanya detik-detik waktu yang mendesah seperti Firdaus yang pelan-pelan dinanti." Tapi malam semakin dingin, dan kabarmu membeku bersama embun yang jatuh tanpa suara. Katamu lagi: "Sabarlah sebentar, aku akan kembali..." Tapi sebentar itu kini terasa seperti musim yang tak pernah datang kembali. Aku duduk di ruang tunggu— menanti pesan yang tak kunjung tiba. Hanya malam yang berbisik lembut, "Pergilah... kini ia semakin menjauh." Di atas Nunuh Amasat, kau membuka buku harianmu— dan menulis jejak-jejak sunyi dengan tangan yang menari di antara waktu. Pesanmu hanya satu, "Aku akan kembali. Sabarlah sebentar." Namun malam pun berlalu, dan katamu, dan janjimu, sepertinya hanyut, bersama derasnya Kali Noelmina— tempat di m...

Surat (suci) Lee-wuun

Gambar
Tak terdengar suara jangkrik diujung waktu. Sunyi senyap mendiami jiwa para penanti malaikat. Kini tepatnya 20 Juli 96, suara tangisan bayi munggil terdengar di semesta. Sorak riang para penanti, disiap lampin membalut tubuh. Ia cantik bak putri raja, nan munggil. Sunyi itu terbongkar suara riak anak manusia yang menjelajahi semesta. Semesta sambut gembira, menggema di seluruh angkasa tanah Timor. Bukan kebetulan, namun kepastian adalah bahagia menyambutnya. Dibalik tirai yang hampir kusam itu, wajah sang bunda tersenyum lega menghilang perih. Disamping Bunda, tampak wajah ayah membalut senyum lagi haru. “ia cantik seperti bundanya”, kata ayah coba mengoda sang bunda. Dibalik tirai itu kebahagiaan tak terukur dan tak terselami oleh kata bahasa apapun. Ia sang malaikat yang belum tahu dan mengerti sebuah kehadiran, hanya sajak-sajak bunyi yang tak dapat di mengerti oleh semesta. Eaeaeaeaeaeaeaeaeaea……suara itu membubung dikala ia lapar. **** Waktu berlalu begitu cepat. Tak t...

Tuhan Tak Pernah Gagal

Gambar
   (Mungkin anda pernah gagal memilih dan mencintai, Namun Tuhan tidak pernah gagal memilih dan mencintai anda) Dalam linimasa kehidupan, ruang dan waktu menjalin benang-benang peristiwa—masa lalu yang telah pergi, masa kini yang sedang dibentuk, dan masa depan yang menanti untuk dijalani. Di antaranya, ada “ proses menjadi” , yang sering tak mudah walau kadang kala diterpa angin dan membuat hidup terombang-ambing. Namun semuanya itu bukan sia-sia—melainkan tenunan makna yang suatu hari akan disebut: sejarah hidup. Sejarah hidup itu berasal dari DIA dan bermuara pada DIA. Kadang aku tak seirama pada jalanNya, namun Ia tetap setia, menulis hidupku dalam bingkai pengharapan. Satu demi satu peristiwa dijahit, meski tak selalu rapi, bahkan sering patah-patah seperti huruf-huruf pada halaman buku yang akan disebut: perjalanan seorang murid. Memang patut aku akui bahwa jalan bersama Tuhan akan menjadi indah ketika diuji, ditantang dan akhirnya disertai air mata yang menjadi ...

Terima Kasih, Batuna

Gambar
Di ujung senja, langkahku perlahan, meninggalkan jejak di tanah yang diam— Battuna, tempat hati pernah tenang, di antara doa dan tawa yang tak pernah padam. Tak mudah mengucap salam perpisahan, ketika tiap wajah menyimpan kasih, setiap tangan menjabat dengan keikhlasan, dan tiap pagi disambut damai yang bersih. Kopi manis buatan mama Maria, Mengusir dingin, menghangatkan badan. Sopi dalam seloki, bahkan satu galon disiap, mengikat cerita, mengusir sunyi yang pilu. Diantara umat yang memeluk dengan jiwa, mengajariku arti rumah tanpa tembok dan pagar, di setiap misa, di setiap peluh kerja, ada cinta yang tak pernah ingin ku tinggal. Setiap perjumpaan di sini adalah syair, mengalir dalam makna yang tak bisa diseka oleh waktu. Di Battuna, jiwa seakan menemukan pelabuhannya, raga bertemu raga—bukan untuk singgah, tapi untuk tinggal, walau semesta terus berubah. Dan di tengah sunyi ini, K(s)opi menjadi sahabat yang paling setia, hangatnya menyentuh lebih dalam  dari sekadar c...

Battuna dan Dinginnya

Gambar
Dalam Dingin Battuna, Aku Pernah Ada Kabut pagi menyelubungi semesta Batuna, menyulam sunyi di tiap jengkal cakrawala. Dingin menyelinap pelan ke sela-sela nadi, menyatu dengan raga yang menapak pelatar bebatu— jejak yang diam-diam menyimpan rindu paling syahdu. Setiap perjumpaan di sini adalah syair, mengalir dalam makna yang tak bisa diseka oleh waktu. Di Battuna, jiwa seakan menemukan pelabuhannya, raga bertemu raga—bukan untuk singgah, tapi untuk tinggal, walau semesta terus berubah. Dan di tengah sunyi ini, K(s)opi menjadi sahabat yang paling setia, hangatnya menyentuh lebih dalam dari sekadar cangkir dan aroma. Ia tak pernah berlabuh di hati lain, selalu pulang pada rindu yang sama—pada kita yang pernah bicara dalam diam. Kopi dan sopi di Battuna—dua penjaga nostalgia, menyimpan sajak-sajak tentang aku yang pernah ada, menikmati gigil pagi dan sunyi yang abadi, di bukit Battuna… tempat kenangan enggan pergi. Lopo Gereja Paroki Sta. Maria Immaculata Battuna, 5 Juli 202...

Nama Gadis itu…

Gambar
  Nama Gadis itu… Semesta yang berbeda. Kicauan merpati memberi sorak pada semesta. Kodok-kodok dengan paduan suara memecahkan kesunyian semesta. Di sudut lereng bukit itu terpancar keelokan semesta yang masih perawan. Tanpa polusi. Tanpa lalulintas. Tanpa riuh bel bandara atau pelabuhan atau terminal atau pasar. Tanpa aroma limbah. Tanpa kebisingan. Serba kesunyian yang melahirkan kepolosan jiwa. Disana ada kepenuhan dahaga, yang selalu rindu dunia kesunyian. Disana hanya ada jiwa yang selalu mengagumi semesta. Di semesta itu, ada jiwa yang bernama sang gadis. Sosok gadis itu memesonakan mata Para Adam. Anggun. Polos. Seadanya. Dan tak berbisa. Pada jamannya, sang gadis kadang tak diperhitungan pendapatnya. Walaupun apa yang dikatakannya adalah benar. Namun gadis ini berbeda dengan gadis yang lain. Ia berlaku sopan atas ajaran sang ayah dan bundanya. Penuh perhatian, penuh kehati-hatian, dan sepenuh hati menjalankan tugasnya. Ia tak mencuri pandang kepada para Adam, walau para...

Mengenang Sosok Yang Murah Hati

Gambar
  Hari ini, setelah misa pagi, hati saya dibuat terkejut. Saya membuka HP dan satu pesan singkat dari adik saya Darman yang memberi kabar buruk di pagi yang cerah "Rowa hia Om Eman eeeee..." Saya terdiam. kaget. Tak pernah saya dengar kabar beliau sakit. Tak ada tanda. Tak ada isyarat. Tiba-tiba, kepergian itu datang begitu senyap—seperti beliau sendiri: diam, tenang, tapi selalu bermakna. Tiga tahun saya tinggal bersama (walau tak serumah) dekat rumahnya di Jawang. Dalam keseharian itu, saya mengenalnya lebih dari sekadar seorang Bapa Ezzy. Ia akrab di sapa Ema de Joko , oleh Om Marsel. Saya sendiri sering memanggilnya Om Ezzy. Banyak cerita dan kisah yang saya alami selama tiga tahun itu. Dari semua kenangan, ada satu kalimat sederhana yang tak pernah lekang: “Nana, mai inung kopi de…” Kalimat itu bukan sekadar ajakan minum kopi. Itu adalah undangan untuk masuk dalam kehangatan, dalam kebersamaan, dalam cinta yang tidak berkata-kata tapi terasa sampai ke relung jiwa....

Perawan

Gambar
Seandainya malam punya mulut, ia akan berbisik lirih tentang langkah yang selalu kembali, menegurku di sela-sela sunyi yang selalu menemani. Seandainya bunga-bunga bersuara, mereka akan mendesah letih, karena kehadiranku mengusik hening yang seharusnya abadi. Namun lampu taman mengerti— ia tak berkata, tapi sinarnya menenangkan. Ia tersenyum diam, seolah berbisik: “ Nana... tenanglah.” Cahayanya membias di ujung taman, tempat seorang gadis berdiri tegap. Tangannya menggenggam seikat mawar— entah dari mana, tapi aku tahu, ada cinta lain yang telah lebih dulu menyampaikannya. Ia tampak polos. Sepolos doa yang diucap dari kedalam batin. Rambut panjangnya tersembunyi di balik kerudung yang menambah keanggunan parasnya. Bunga-bunga tak pernah pergi darinya— seolah harum mereka lahir dari napas gadis itu sendiri. Ia seorang perawan . Tak pernah disentuh nikmat dunia, tak dijamah godaan yang gemerlap. Ia suci dari sindir, iri, dan gosip yang memuakkan. Langkahnya bersih dari noda y...

Pejuang Ijazah di Kaki Bunda Maria

Gambar
  Gua Maria, Scolastikat Hati Maria- Claretian Kupang Dibawah kakimu, Bunda, aku duduk dalam diam, menenun kepedihanku dengan benang-benang ketabahan yang mulai rapuh. Malam-malam panjang telah menjadi sahabat setiaku, namun malam ini... ia terlalu sunyi untuk mengerti tangisku yang tak berbunyi. Tugas akhirku, Bunda... bukan hanya tentang kertas dan tinta, tetapi tentang serpihan mimpi yang kubawa sejak lama, dan kini mulai kehilangan bentuknya. Aku tak tahu lagi arah. Layar perahuku terkoyak angin keraguan, kompasku rusak, dan laut dalam diriku bergemuruh tanpa ampun. Bunda... apakah ini akhir dari semua yang kutabur dengan harapan? Di pojok taman yang menua bersama kenangan, aku bersandar pada doa yang tak selesai. Menanti jawaban yang tak pernah menjelma, hanya dinding-dinding kampus yang memantulkan sunyi. Aku baru saja pulang dari konsultasi... tapi pulang kali ini terasa seperti pulang dari medan perang tanpa kemenangan. Aku kalah, Bunda. Kalah oleh...

Berharap

Gambar
     Pagi itu, dunia belum sepenuhnya bangun. Ayam pun enggan berkokok, seolah memberi ruang bagi embun terakhir hujan semalam untuk menetes pelan di ujung dedaunan. Tak ada suara memecah sunyi, hanya desau langkah yang beradu pelan dengan waktu di atas lantai rumah yang belum sempat disentuh dinginnya keramik. Malam telah pergi terlalu cepat, tak cukup bagi tubuh renta untuk mereguk utuh istirahat di atas ranjang tua—ranjang yang diam-diam menjadi saksi perjalanan panjang seorang pengembara: pencari sesuap harapan. Ia Bapak Fidelis. Penduduk sekitar memanggilnya Om Fidel. Ia dikenal seorang yang penuh perjuangan dan pekerja keras , walau usia sudah semakin menua. Hari itu tak jauh berbeda. Seperti biasa, sebelum jarum jam menyentuh angka tujuh, Fidelis sudah harus tiba di toko Aci Maya. Tak ada ruang untuk alasan. Tak ada waktu untuk terlambat. Perintah Aci Maya jelas dan lugas; "Selesaikan semuanya sebelum tengah hari. Lalu antarkan barang-barang ke Pa Dorus bersama...

Dari Sukacita Paska ke Sunyi Kehilangan

Gambar
Desas-desus kebangkitan-Nya tak lagi bisu—telah menyebar ke empat penjuru bumi. "Alleluya!" bergema dari hati yang pernah meragu, kini berseru dalam yakin yang menyala. Dia yang dicerca, dilukai, disangkal—telah bangkit dalam cahaya kekekalan, menyatakan dengan megah: Dia sungguh Allah. Dan kami, anak-anak Timor, menyambutnya dengan palate , suara riang yang merobek keheningan duka Jumat Agung. Sebab di Minggu yang pagi, di tengah cahaya yang baru, Dia yang dahulu di salib bagai penjahat, kini menampakkan wajah-Nya dalam kemuliaan. Sukacita menyelimuti, dan palate kami menjadi nyanyian jiwa— bergema dari pelosok hati hingga langit-langit waktu. Namun, pagi ini—Senin Paska Kedua— ketika sukacita paska masih hangat di dada, ketika palate belum lelah bersuara, sebuah kabar datang merobek hening: engkau telah pergi. Dunia terasa berhenti. Langit tak berwarna. Udara kehilangan napasnya. Kami menangis, bukan sekadar kehilangan, tapi karena dunia telah kehi...

Gang Dolorosa

Gambar
Terik panas bumi menghanguskan segala perjuangan batin. Dalam deru kaki kuda yang mengoncang kota tua yang tak terawat, terdengar desas-desus masa lalu yang merobek keheningan. Sepatu para hansip dari desa melangkah cepat menembus jalan berdebu, meninggalkan jejak yang hanya berupa debu yang mengusik, seakan tak bersalah. Waktu terus melangkah, jejaknya hampir tenggelam menuju peraduan senja, seiring pemuda dari desa itu digiring menuju kota yang katanya sumber keadilan. Benarkah demikian? Di sudut sana, di gang Dolorosa, seorang ibu berpakaian lusuh menatap dunia yang penuh hiruk-pikuk, seolah tak terkendali. Suara masa kini semakin bergema, menjalar hingga pelosok negeri, tetapi ia hanya bisa terdiam, tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Di sampingnya, seorang gadis muda, yang memesona mata, namun seketika hilang dari pandangan, terhapus oleh debu tangisan batin. Mereka terus berjalan meski lambat, menapaki jejak-jejak yang hampir terlupakan. Detak waktu terasa mencekam. Suasan...

Rosa Mistika Punya Cerita

Gambar
  Umat KUB Sta. Maria Rosa Mistika Hujan di bulan Maret jatuh perlahan, membasahi tanah yang telah lama merindu. Namun, meskipun rintik hujan mengguyur dengan setia, ia tak pernah mampu menghapus semangat mereka yang ingin jumpa. Dengan langkah yang penuh makna, mereka berkumpul dalam keheningan waktu, mengikat kisah dan cerita yang terjalin dalam benang iman. Bulan ini, bulan yang penuh berkah, mereka menyebutnya sebagai bulan Aksi Puasa Pembangunan. Di bulan yang penuh makna ini, mereka bersama-sama memaknai perjalanan panjang mereka, merajut kenangan di tengah hujan dan harapan yang tak pernah padam. Mereka, para peziarah, berjalan dengan hati yang terbuka, melangkah bersama menapaki jalan yang penuh rahasia. Dalam setiap pertemuan, mereka tidak sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dalam jiwa yang menyatu dalam ikatan kasih dan perhatian. Mereka yang datang membawa kisah, berbagi cerita, dan saling meneguhkan dalam perjalanan iman. Di Rosa Mistika, tempat yang telah menj...