LUPA AKAN LUKA
Malam itu hujan turun pelan, seakan ikut menangis bersama seorang ibu yang berlutut di sudut rumah kayu kecil mereka. Lilin kecil menyala di depan patung salib yang sudah agak pudar warnanya. Di sana, mama Rafael berdoa dengan suara yang tertahan. “Ya Tuhan… kuatkan kami…” Air matanya jatuh satu per satu ke lantai. Di balik pintu yang sedikit terbuka, seorang anak laki-laki berdiri diam. Rafael. Ia tidak berani masuk. Tidak berani juga pergi. Sejak ayahnya meninggal, rumah itu tidak pernah benar-benar terasa sama. Dulu ada tawa, ada cerita, ada pelukan hangat. Sekarang yang tersisa hanyalah keheningan… dan doa yang basah oleh air mata. Rafael adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Usianya masih terlalu muda untuk mengerti semua persoalan orang dewasa. Tetapi hidup tidak pernah menunggu seseorang menjadi siap. Masalah datang silih berganti. Bukan hanya karena kepergian ayahnya, tetapi juga karena keluarga dari pihak ayah yang perlahan menjauh. Kata-kata yang menyakitkan, s...