Malam Pertama
Tak biasanya dingin seperti ini. Alam seolah merajuk dengan awan hitam menggantung di angkasa. Tak ada bintang yang biasa menemaniku di malam-malam panjang di warung Bibi Umi. Hanya rintik-rintik hujan yang berbisik, seakan hendak jatuh lebih deras. Di tengah keheningan, wajah seorang gadis berkacamata kembali muncul di benakku. Wajahnya kulihat Senin lalu di pintu masuk kelas—tidak asing, meski sudah lama aku melupakannya. Seperti papan mading yang menempelkan kembali memori lama, aku tersadar: aku pernah mengenalnya. “Selamat siang, Nana. Nana Hendra, kan?” Suara itu menyergapku siang tadi, di depan mading kampus. Suara yang seketika menyeretku ke masa lalu. “Aku Loli, anak Bapa Desa. Nana masih ingat saya?” Nama itu menyalakan percikan nostalgia. Tentu, aku mengenalnya. Gadis yang dulu diam-diam kucari dengan alasan palsu pada ibuku—kataku hendak ke rumah Oma di kampung sebelah, padahal hanya ingin bertemu anak Bapa Desa. Gadis yang dulu kuimpikan sebagai belahan j...