Postingan

Air Mata di Tanah Lorosae

Gambar
  Di bawah sinar matahari tropis yang terik, bumi Lorosae menyambut kedatangan Santo Padre Francisco dengan raga penuh menanti. Ribuan kepala berbaris rapi, sementara sorak-sorai penuh semangat memecah keheningan pagi. " Viva Papa Francisco !" seru mereka dengan suara lantang, seolah menyatukan ribuan suara menjadi satu melodi indah yang menyapa Sang Gembala. Lorosae, tanah yang pernah dipenuhi keputusasaan dan harapan yang suram, kini bagaikan taman yang sedang bermekaran. Setiap sudutnya dipenuhi warna-warni kebahagiaan. Pada tahun 1989, mereka menyambut Santo Padre Yohanes Paulus II dengan semangat yang sama. Kini, jejak spiritual itu dilanjutkan oleh Santo Padre Francisco, yang melambaikan tangan dengan penuh kasih. Bumi Lorosae menjadi saksi bisu perubahan yang menakjubkan. Tanah yang dulunya dibuang dan dilupakan kini menjadi cerminan keagungan dan kebangkitan. Saat Santo Padre Francisco melangkah di tanah ini, dunia seolah berhenti sejenak untuk menyaksikan keaja...

Diperbarui oleh Sabda: Inspirasi Claret bagi Dunia VUCA

Gambar
Fr. Darvis CMF. Bulan Kitab Suci Nasional 2025 kembali mengetuk kesadaran umat Katolik Indonesia untuk merenungkan Sabda Tuhan sebagai sumber kehidupan. Tema tahun ini, “Allah Sumber Pembaruan Hidup” , mengajak setiap orang untuk menemukan kekuatan rohani dalam ziarah kemuridannya. Tema besar ini dijabarkan dalam empat subtema, yakni: Allah sumber pembaruan relasi dengan diri sendiri, dengan sesama, dalam keluarga, dan dengan Allah sendiri. Kitab Zakaria dan Maleakhi hadir sebagai inspirasi profetis: menyerukan pertobatan, mengingatkan manusia akan keterpurukan karena dosa, sekaligus membuka ruang rahmat agar manusia kembali kepada Allah yang setia. Pembaharuan hidup yang bersumber dari Allah ini menjadi semakin relevan ketika kita menilik kehidupan Santo Antonius Maria Claret . Pendiri Kongregasi Misionaris Claretian ini adalah seorang pribadi yang menaruh hidupnya sepenuhnya pada Sabda Allah. Kitab Suci bukan hanya ia baca, melainkan ia hayati dan wartakan dengan penuh se...

Malam Pertama

Gambar
Tak biasanya dingin seperti ini. Alam seolah merajuk dengan awan hitam menggantung di angkasa. Tak ada bintang yang biasa menemaniku di malam-malam panjang di warung Bibi Umi. Hanya rintik-rintik hujan yang berbisik, seakan hendak jatuh lebih deras. Di tengah keheningan, wajah seorang gadis berkacamata kembali muncul di benakku. Wajahnya kulihat Senin lalu di pintu masuk kelas—tidak asing, meski sudah lama aku melupakannya. Seperti papan mading yang menempelkan kembali memori lama, aku tersadar: aku pernah mengenalnya. “Selamat siang, Nana. Nana Hendra, kan?” Suara itu menyergapku siang tadi, di depan mading kampus. Suara yang seketika menyeretku ke masa lalu. “Aku Loli, anak Bapa Desa. Nana masih ingat saya?” Nama itu menyalakan percikan nostalgia. Tentu, aku mengenalnya. Gadis yang dulu diam-diam kucari dengan alasan palsu pada ibuku—kataku hendak ke rumah Oma di kampung sebelah, padahal hanya ingin bertemu anak Bapa Desa.   Gadis yang dulu kuimpikan sebagai belahan j...

Surat Singkat di Ujung Senja

Gambar
  Masih terpendam dalam sanubari, sekumpulan pertanyaan yang tak mampu dijawab oleh siapa pun, meski tak satupun dari mereka yang rumit dan tak bisa dimengerti… Pertanyaan itu terus berputar, seperti doa yang tiada henti, menjelma menjadi refleksi yang tak pernah usai. Ia menjadi penutup setiap halaman dalam buku harianku yang penuh cerita. Mengapa harus aku? Mengapa aku? Mengapa aku? Pertanyaan ini terus mengalun, menari-nari di telingaku, setiap kali aku menutup malam, menutup kisah dalam catatan kecilku. Doa-doa terus mengiringi perjalanan kita, tentang panggilan yang kita sambut, tentang semangat yang tak pernah padam untuk tetap setia pada jalan hidup yang telah kita pilih. Malam ini, aku titipkan seuntai doa dengan namamu, dan sebaris kata terima kasih untuk dirimu yang telah menemani sejauh ini. Kamu yang selalu ada, mendukung, mengingatkan untuk terus semangat,  menjaga diri,  menjaga kesehatan. Meski kata-kata ...

Yang Tulus-Berjubah

Gambar
  Kaki ini melangkah perlahan, menyusuri anak tangga di depan Gereja tua yang penuh kenangan. Setiap pijakan terasa seperti mengetuk pintu waktu, menggiringku pada masa lalu yang tak pernah pergi. Tak ada jalan lain—hanya anak tangga itu, saksi bisu perjalanan batin yang tak pernah aku bayangkan akan berujung di sini. Di tengah gerimis yang lembut, aku melihatnya. Dia. Aku hanya seorang yang menanti waktu kapan bisa bisa berjumpah, dan akhirnya terjawab sudah. Kini penantian panjang tentang waktu, terjawab dalam pertemuan yang singkat di balik rintik-rintik hujan sore. Aku yang pertama menangkap bayangnya sore itu, namun dia tidak menyadari keberadaanku. Hujan turun perlahan, menyapu tanah dengan kelembutan yang menggetarkan jiwa. Hujan menjadi payung langit bagi perjumpaan yang begitu singkat, namun memahat kenangan yang tak akan terhapus. Hatiku berdegup tak menentu. Aku tahu dia pernah tersakiti oleh Renya—sahabatku yang pernah begitu dekat dengannya, lalu pergi begitu saj...

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru

Gambar
  Refleksi atas teks Lukas 9:28b-36 Beberapa waktu lalu, di beranda media sosial—Facebook, TikTok, hingga status WhatsApp—saya melihat potongan-potongan kisah haru: para guru yang dinyatakan lulus P3K akhirnya harus pindah tugas ke sekolah yang baru. Wajah-wajah bahagia sekaligus berat hati tampak dalam video dan foto perpisahan mereka. Mereka menangis bukan hanya karena senang telah lolos dari penantian panjang, tapi juga karena harus meninggalkan tempat yang sudah seperti rumah sendiri. Di tempat lama, mereka telah mencurahkan cinta, bertumbuh dalam pelayanan, mengenal murid-murid dan rekan kerja layaknya keluarga. Kini, panggilan baru membawa mereka ke tempat yang belum dikenal. Ada yang menyambutnya dengan sukacita, ada pula yang berangkat dengan air mata. Semua merasakan perasaan yang sama: berat meninggalkan kenyamanan yang lama, tetapi mau tidak mau harus pergi ke tempat yang baru. Saya pun pernah mengalami hal serupa. Dalam kegiatan live in sebagai frater di sebuah...

Musa: Pemimpin Yang Sejati

Gambar
Sebuah Refleksi atas teks Bilangan 11:4b-15 Di setiap momen menjelang pemilu atau pilkada, tidak se dikit orang berbondong-bondong mencalonkan diri untuk merebut kekuasaan sebagai pemimpin. Pada saat itu pula, berbagai gagasan diutarakan dan dilempar kepada para pemilih dengan daya tarik yang kuat, dipoles dengan kata-kata memesona. Janji-janji manis tidak pernah absen dari setiap mulut para kandidat. Tak kalah menarik, setiap pasangan calon (paslon) membuat poster-poster besar dengan slogan-slogan yang memukau, seperti “Siap kerja bersama rakyat” atau “Mendengarkan suara rakyat.” Begitu indah bait-bait narasi itu hingga rakyat pun kebingungan harus memilih siapa, sebab semua janji terdengar mengesankan. Setelah pemilihan usai, bersyukurlah bagi yang menang, dan tersungkurlah yang kalah. Namun kerap kali, saat seseorang resmi menjadi pemimpin, narasi-narasi indah yang dulu diperdengarkan perlahan memudar. Rakyat mulai lelah menagih janji yang tak kunjung ditepati. Tak jarang kita...

Jatuh Cinta Dengan Milik Tuhan

Gambar
  Aku, yang tak pernah bersahabat dengan perjumpaan, kini terpaksa menghadapi denyut aneh di hatiku. Khatulistiwa rasa, tempat di mana senyumnya menghangatkan jiwa, meski dia hadir dalam misteri. Ini adalah sebuah pelayaran tanpa kompas, di antara kebencian dan kerinduan. Ada rasa yang terjalin di antara dua hati, tak bisa kupungkiri. Meski pernah ada jejak kehilangan yang menggores luka, dia datang membawa seberkas harapan. Namun, benarkah semua laki-laki itu sama? Dengan senyum manis dan langkah ringan, ia melintas di hidupku, mengingatkan pada semua rasa yang pernah menyakitkan. Tapi tidak, dia bukan sekadar bayangan. Dia adalah misteri yang membangkitkan rindu mendalam, seakan Tuhan menaruhnya di sini untuk menyembuhkan segala duka. Kisahku, yang terjalin dalam kehadirannya, terhampar dalam narasi waktu. Di antara riuh dan gemuruh, aku menemukan kenyamanan. Dalam percakapan yang ringan, aku ceria, seolah dunia milik kami berdua. Satu kebetulan indah: kami berdua merangkai k...

Doa Enu

Gambar
  Malam begitu sepi. Tidak ada suara yang menemani waktu malam ini. Hanya seberkas cahaya yang muncul di balik pohon angsono yang daunya gugur di bulan Juli. Butir-butir rosario ku genggam erat, menghiasi setiap tapak kakiku menuju gua Maria. Ini adalah kebiasaanku—kami para anak seminari—setelah makan malam, kami mengambil waktu pribadi untuk mendaraskan doa rosario. Kami percaya bahwa kekuatan dari Sang Bunda mampu menjawab setiap kegelisahan hidup. Malam seolah-olah bercerita pada angin tentang anak manusia yang terus berharap dan bertekuk. Aku merasakannya. Setiap langkahku seperti mengetuk pintu langit, seolah menyampaikan bahwa ada seseorang di bumi yang datang membawa gundah. Malam berbisik lembut, menyambutku, menenangkan. Kata-kata Kitab Suci terlintas begitu nyata: “Datanglah kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan.” Langkahku terhenti saat sampai di depan gua. Nyala lilin-lilin tak pernah padam, memantulkan cahaya yang membuat waj...

Nunuh Amasat; Kabar Yang Hilang

Gambar
Malam kembali mengetuk jendela, membawa dingin yang menceritakan kehilangan— sejak kau pergi minggu lalu, dan tak satu pun kabar menyusul langkahmu. Katamu: "Aku berada di Nunuh Amasat, tempat sunyi bersemayam. Di sana, hanya detik-detik waktu yang mendesah seperti Firdaus yang pelan-pelan dinanti." Tapi malam semakin dingin, dan kabarmu membeku bersama embun yang jatuh tanpa suara. Katamu lagi: "Sabarlah sebentar, aku akan kembali..." Tapi sebentar itu kini terasa seperti musim yang tak pernah datang kembali. Aku duduk di ruang tunggu— menanti pesan yang tak kunjung tiba. Hanya malam yang berbisik lembut, "Pergilah... kini ia semakin menjauh." Di atas Nunuh Amasat, kau membuka buku harianmu— dan menulis jejak-jejak sunyi dengan tangan yang menari di antara waktu. Pesanmu hanya satu, "Aku akan kembali. Sabarlah sebentar." Namun malam pun berlalu, dan katamu, dan janjimu, sepertinya hanyut, bersama derasnya Kali Noelmina— tempat di m...

Surat (suci) Lee-wuun

Gambar
Tak terdengar suara jangkrik diujung waktu. Sunyi senyap mendiami jiwa para penanti malaikat. Kini tepatnya 20 Juli 96, suara tangisan bayi munggil terdengar di semesta. Sorak riang para penanti, disiap lampin membalut tubuh. Ia cantik bak putri raja, nan munggil. Sunyi itu terbongkar suara riak anak manusia yang menjelajahi semesta. Semesta sambut gembira, menggema di seluruh angkasa tanah Timor. Bukan kebetulan, namun kepastian adalah bahagia menyambutnya. Dibalik tirai yang hampir kusam itu, wajah sang bunda tersenyum lega menghilang perih. Disamping Bunda, tampak wajah ayah membalut senyum lagi haru. “ia cantik seperti bundanya”, kata ayah coba mengoda sang bunda. Dibalik tirai itu kebahagiaan tak terukur dan tak terselami oleh kata bahasa apapun. Ia sang malaikat yang belum tahu dan mengerti sebuah kehadiran, hanya sajak-sajak bunyi yang tak dapat di mengerti oleh semesta. Eaeaeaeaeaeaeaeaeaea……suara itu membubung dikala ia lapar. **** Waktu berlalu begitu cepat. Tak t...

Tuhan Tak Pernah Gagal

Gambar
   (Mungkin anda pernah gagal memilih dan mencintai, Namun Tuhan tidak pernah gagal memilih dan mencintai anda) Dalam linimasa kehidupan, ruang dan waktu menjalin benang-benang peristiwa—masa lalu yang telah pergi, masa kini yang sedang dibentuk, dan masa depan yang menanti untuk dijalani. Di antaranya, ada “ proses menjadi” , yang sering tak mudah walau kadang kala diterpa angin dan membuat hidup terombang-ambing. Namun semuanya itu bukan sia-sia—melainkan tenunan makna yang suatu hari akan disebut: sejarah hidup. Sejarah hidup itu berasal dari DIA dan bermuara pada DIA. Kadang aku tak seirama pada jalanNya, namun Ia tetap setia, menulis hidupku dalam bingkai pengharapan. Satu demi satu peristiwa dijahit, meski tak selalu rapi, bahkan sering patah-patah seperti huruf-huruf pada halaman buku yang akan disebut: perjalanan seorang murid. Memang patut aku akui bahwa jalan bersama Tuhan akan menjadi indah ketika diuji, ditantang dan akhirnya disertai air mata yang menjadi ...

Terima Kasih, Batuna

Gambar
Di ujung senja, langkahku perlahan, meninggalkan jejak di tanah yang diam— Battuna, tempat hati pernah tenang, di antara doa dan tawa yang tak pernah padam. Tak mudah mengucap salam perpisahan, ketika tiap wajah menyimpan kasih, setiap tangan menjabat dengan keikhlasan, dan tiap pagi disambut damai yang bersih. Kopi manis buatan mama Maria, Mengusir dingin, menghangatkan badan. Sopi dalam seloki, bahkan satu galon disiap, mengikat cerita, mengusir sunyi yang pilu. Diantara umat yang memeluk dengan jiwa, mengajariku arti rumah tanpa tembok dan pagar, di setiap misa, di setiap peluh kerja, ada cinta yang tak pernah ingin ku tinggal. Setiap perjumpaan di sini adalah syair, mengalir dalam makna yang tak bisa diseka oleh waktu. Di Battuna, jiwa seakan menemukan pelabuhannya, raga bertemu raga—bukan untuk singgah, tapi untuk tinggal, walau semesta terus berubah. Dan di tengah sunyi ini, K(s)opi menjadi sahabat yang paling setia, hangatnya menyentuh lebih dalam  dari sekadar c...

Battuna dan Dinginnya

Gambar
Dalam Dingin Battuna, Aku Pernah Ada Kabut pagi menyelubungi semesta Batuna, menyulam sunyi di tiap jengkal cakrawala. Dingin menyelinap pelan ke sela-sela nadi, menyatu dengan raga yang menapak pelatar bebatu— jejak yang diam-diam menyimpan rindu paling syahdu. Setiap perjumpaan di sini adalah syair, mengalir dalam makna yang tak bisa diseka oleh waktu. Di Battuna, jiwa seakan menemukan pelabuhannya, raga bertemu raga—bukan untuk singgah, tapi untuk tinggal, walau semesta terus berubah. Dan di tengah sunyi ini, K(s)opi menjadi sahabat yang paling setia, hangatnya menyentuh lebih dalam dari sekadar cangkir dan aroma. Ia tak pernah berlabuh di hati lain, selalu pulang pada rindu yang sama—pada kita yang pernah bicara dalam diam. Kopi dan sopi di Battuna—dua penjaga nostalgia, menyimpan sajak-sajak tentang aku yang pernah ada, menikmati gigil pagi dan sunyi yang abadi, di bukit Battuna… tempat kenangan enggan pergi. Lopo Gereja Paroki Sta. Maria Immaculata Battuna, 5 Juli 202...

Nama Gadis itu…

Gambar
  Nama Gadis itu… Semesta yang berbeda. Kicauan merpati memberi sorak pada semesta. Kodok-kodok dengan paduan suara memecahkan kesunyian semesta. Di sudut lereng bukit itu terpancar keelokan semesta yang masih perawan. Tanpa polusi. Tanpa lalulintas. Tanpa riuh bel bandara atau pelabuhan atau terminal atau pasar. Tanpa aroma limbah. Tanpa kebisingan. Serba kesunyian yang melahirkan kepolosan jiwa. Disana ada kepenuhan dahaga, yang selalu rindu dunia kesunyian. Disana hanya ada jiwa yang selalu mengagumi semesta. Di semesta itu, ada jiwa yang bernama sang gadis. Sosok gadis itu memesonakan mata Para Adam. Anggun. Polos. Seadanya. Dan tak berbisa. Pada jamannya, sang gadis kadang tak diperhitungan pendapatnya. Walaupun apa yang dikatakannya adalah benar. Namun gadis ini berbeda dengan gadis yang lain. Ia berlaku sopan atas ajaran sang ayah dan bundanya. Penuh perhatian, penuh kehati-hatian, dan sepenuh hati menjalankan tugasnya. Ia tak mencuri pandang kepada para Adam, walau para...

Mengenang Sosok Yang Murah Hati

Gambar
  Hari ini, setelah misa pagi, hati saya dibuat terkejut. Saya membuka HP dan satu pesan singkat dari adik saya Darman yang memberi kabar buruk di pagi yang cerah "Rowa hia Om Eman eeeee..." Saya terdiam. kaget. Tak pernah saya dengar kabar beliau sakit. Tak ada tanda. Tak ada isyarat. Tiba-tiba, kepergian itu datang begitu senyap—seperti beliau sendiri: diam, tenang, tapi selalu bermakna. Tiga tahun saya tinggal bersama (walau tak serumah) dekat rumahnya di Jawang. Dalam keseharian itu, saya mengenalnya lebih dari sekadar seorang Bapa Ezzy. Ia akrab di sapa Ema de Joko , oleh Om Marsel. Saya sendiri sering memanggilnya Om Ezzy. Banyak cerita dan kisah yang saya alami selama tiga tahun itu. Dari semua kenangan, ada satu kalimat sederhana yang tak pernah lekang: “Nana, mai inung kopi de…” Kalimat itu bukan sekadar ajakan minum kopi. Itu adalah undangan untuk masuk dalam kehangatan, dalam kebersamaan, dalam cinta yang tidak berkata-kata tapi terasa sampai ke relung jiwa....