Postingan

Lilin

Gambar
Lampu-lampu kecil di sudut altar memantulkan bayangan lembut pada dinding, dan aroma lilin yang terbakar pelan mengisi udara dengan ketenangan yang sulit dijelaskan. Usai misa, ia berdiri sejenak, memeluk hening yang jatuh seperti hujan halus dalam hati. Di sudut kanan gereja, tempat lilin-lilin untuk doa menyala. Ia melangkah ke sana, perlahan, seakan setiap langkah adalah doa yang terucap tanpa suara. Ia menyalakan dua lilin pertama—untuk orangtuanya. Lalu satu lilin lagi, yang membuat napasnya terasa hangat dan degupnya lebih pelan. “Satu lilin untukmu. Untuk ujianmu hari itu. Untuk semangatmu. Untuk jalan panggilanmu yang panjang” Dan diam-diam ia menyisipkan satu doa yang hanya diketahui dirinya dan Tuhan: “Semoga suatu saat aku bertemu dia… bukan lagi Frater, tapi Pater.” Doa yang ia ulang sejak mengenalmu, doa yang ia jaga meski kadang terasa terlalu berani. Ia tahu dirinya berharap… mungkin terlalu berharap. Tapi apa boleh buat? Keyakinan itu tumbuh seperti fajar...

Pesona Jubahmu

Gambar
  Aku menyusuri bangku-bangku kosong, Di mana jejak kaki tak pernah lelah menunggu. Mencari tempat untuk bertekuk, memohon, Dalam diam, aku menapaki jalan panjang penuh kerinduan. Langkah kakiku, kuayun pasti, Menuju sujud, melangitkan doa tanpa kata. Aku seorang pengembara, Yang sedang berziarah, mengais harapan pada semesta. Mataku kupejam, tangan kuikatkan doa, Jari-jari saling menggenggam erat, tak ingin lepas. Mulutku terbungkam, namun hati berbicara, Aku seorang peziarah yang beradu harap. Aku memohon pada yang tak tampak, Berharap kelak aku selamat dari segala gemuruh dunia. Jubah putihmu menggodaku, Berpijak di tanah yang penuh doa, kini aku bertekuk dan memohon. Suatu saat, kelak, aku ingin berjubah sepertimu, Dengan segala kemuliaan yang terukir di ujung benang. Aku kagum pada pesona jubahmu, Menghadirkan ketenangan, menghapus kegelisahan. Aku pun berharap, di tahun pengharapan ini, Suatu saat nanti, harapan menjadi kenyataan, Menjadi seperti jubahmu, Menyelim...

Moke: Anugerah Allah di Antara Berkat Ekonomi dan Luka Sosial

Gambar
  Br. Sandro Jeharu, FSF. Menikmati moke -minuman tradisional khas Nusa Tenggara Timur-bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari denyut kehidupan masyarakat Manggarai, khususnya warga Desa Sanolokom, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur. Di desa ini, moke tidak hanya hadir sebagai minuman penghangat, tetapi juga sebagai simbol kehidupan, persaudaraan, dan sumber ekonomi yang menopang kesejahteraan keluarga. Moke Sebagai Anugerah dan Penopang Ekonomi Keberadaan moke di Sanolokom sungguh menjadi berkat bagi banyak keluarga. Pohon Tuak (aren), bahan dasar penghasil moke , tumbuh subur di sebagian besar lahan kebun masyarakat. Dari sanalah mereka menggantungkan harapan hidup. Mengiris tuak dan menyulingnya menjadi sopi menjadi rutinitas yang diwariskan lintas generasi—sebuah profesi yang menuntut ketelatenan, kerja keras, dan ketekunan. Bagi para petani, moke adalah “pemberian berharga dari Allah.” Hasil penjualannya menjadi salah satu sumber pendapatan utam...

Air Mata di Tanah Lorosae

Gambar
  Di bawah sinar matahari tropis yang terik, bumi Lorosae menyambut kedatangan Santo Padre Francisco dengan raga penuh menanti. Ribuan kepala berbaris rapi, sementara sorak-sorai penuh semangat memecah keheningan pagi. " Viva Papa Francisco !" seru mereka dengan suara lantang, seolah menyatukan ribuan suara menjadi satu melodi indah yang menyapa Sang Gembala. Lorosae, tanah yang pernah dipenuhi keputusasaan dan harapan yang suram, kini bagaikan taman yang sedang bermekaran. Setiap sudutnya dipenuhi warna-warni kebahagiaan. Pada tahun 1989, mereka menyambut Santo Padre Yohanes Paulus II dengan semangat yang sama. Kini, jejak spiritual itu dilanjutkan oleh Santo Padre Francisco, yang melambaikan tangan dengan penuh kasih. Bumi Lorosae menjadi saksi bisu perubahan yang menakjubkan. Tanah yang dulunya dibuang dan dilupakan kini menjadi cerminan keagungan dan kebangkitan. Saat Santo Padre Francisco melangkah di tanah ini, dunia seolah berhenti sejenak untuk menyaksikan keaja...

Diperbarui oleh Sabda: Inspirasi Claret bagi Dunia VUCA

Gambar
Fr. Darvis CMF. Bulan Kitab Suci Nasional 2025 kembali mengetuk kesadaran umat Katolik Indonesia untuk merenungkan Sabda Tuhan sebagai sumber kehidupan. Tema tahun ini, “Allah Sumber Pembaruan Hidup” , mengajak setiap orang untuk menemukan kekuatan rohani dalam ziarah kemuridannya. Tema besar ini dijabarkan dalam empat subtema, yakni: Allah sumber pembaruan relasi dengan diri sendiri, dengan sesama, dalam keluarga, dan dengan Allah sendiri. Kitab Zakaria dan Maleakhi hadir sebagai inspirasi profetis: menyerukan pertobatan, mengingatkan manusia akan keterpurukan karena dosa, sekaligus membuka ruang rahmat agar manusia kembali kepada Allah yang setia. Pembaharuan hidup yang bersumber dari Allah ini menjadi semakin relevan ketika kita menilik kehidupan Santo Antonius Maria Claret . Pendiri Kongregasi Misionaris Claretian ini adalah seorang pribadi yang menaruh hidupnya sepenuhnya pada Sabda Allah. Kitab Suci bukan hanya ia baca, melainkan ia hayati dan wartakan dengan penuh se...

Malam Pertama

Gambar
Tak biasanya dingin seperti ini. Alam seolah merajuk dengan awan hitam menggantung di angkasa. Tak ada bintang yang biasa menemaniku di malam-malam panjang di warung Bibi Umi. Hanya rintik-rintik hujan yang berbisik, seakan hendak jatuh lebih deras. Di tengah keheningan, wajah seorang gadis berkacamata kembali muncul di benakku. Wajahnya kulihat Senin lalu di pintu masuk kelas—tidak asing, meski sudah lama aku melupakannya. Seperti papan mading yang menempelkan kembali memori lama, aku tersadar: aku pernah mengenalnya. “Selamat siang, Nana. Nana Hendra, kan?” Suara itu menyergapku siang tadi, di depan mading kampus. Suara yang seketika menyeretku ke masa lalu. “Aku Loli, anak Bapa Desa. Nana masih ingat saya?” Nama itu menyalakan percikan nostalgia. Tentu, aku mengenalnya. Gadis yang dulu diam-diam kucari dengan alasan palsu pada ibuku—kataku hendak ke rumah Oma di kampung sebelah, padahal hanya ingin bertemu anak Bapa Desa.   Gadis yang dulu kuimpikan sebagai belahan j...

Surat Singkat di Ujung Senja

Gambar
  Masih terpendam dalam sanubari, sekumpulan pertanyaan yang tak mampu dijawab oleh siapa pun, meski tak satupun dari mereka yang rumit dan tak bisa dimengerti… Pertanyaan itu terus berputar, seperti doa yang tiada henti, menjelma menjadi refleksi yang tak pernah usai. Ia menjadi penutup setiap halaman dalam buku harianku yang penuh cerita. Mengapa harus aku? Mengapa aku? Mengapa aku? Pertanyaan ini terus mengalun, menari-nari di telingaku, setiap kali aku menutup malam, menutup kisah dalam catatan kecilku. Doa-doa terus mengiringi perjalanan kita, tentang panggilan yang kita sambut, tentang semangat yang tak pernah padam untuk tetap setia pada jalan hidup yang telah kita pilih. Malam ini, aku titipkan seuntai doa dengan namamu, dan sebaris kata terima kasih untuk dirimu yang telah menemani sejauh ini. Kamu yang selalu ada, mendukung, mengingatkan untuk terus semangat,  menjaga diri,  menjaga kesehatan. Meski kata-kata ...

Yang Tulus-Berjubah

Gambar
  Kaki ini melangkah perlahan, menyusuri anak tangga di depan Gereja tua yang penuh kenangan. Setiap pijakan terasa seperti mengetuk pintu waktu, menggiringku pada masa lalu yang tak pernah pergi. Tak ada jalan lain—hanya anak tangga itu, saksi bisu perjalanan batin yang tak pernah aku bayangkan akan berujung di sini. Di tengah gerimis yang lembut, aku melihatnya. Dia. Aku hanya seorang yang menanti waktu kapan bisa bisa berjumpah, dan akhirnya terjawab sudah. Kini penantian panjang tentang waktu, terjawab dalam pertemuan yang singkat di balik rintik-rintik hujan sore. Aku yang pertama menangkap bayangnya sore itu, namun dia tidak menyadari keberadaanku. Hujan turun perlahan, menyapu tanah dengan kelembutan yang menggetarkan jiwa. Hujan menjadi payung langit bagi perjumpaan yang begitu singkat, namun memahat kenangan yang tak akan terhapus. Hatiku berdegup tak menentu. Aku tahu dia pernah tersakiti oleh Renya—sahabatku yang pernah begitu dekat dengannya, lalu pergi begitu saj...

Nyaman yang Lama, Panggilan untuk yang Baru

Gambar
  Refleksi atas teks Lukas 9:28b-36 Beberapa waktu lalu, di beranda media sosial—Facebook, TikTok, hingga status WhatsApp—saya melihat potongan-potongan kisah haru: para guru yang dinyatakan lulus P3K akhirnya harus pindah tugas ke sekolah yang baru. Wajah-wajah bahagia sekaligus berat hati tampak dalam video dan foto perpisahan mereka. Mereka menangis bukan hanya karena senang telah lolos dari penantian panjang, tapi juga karena harus meninggalkan tempat yang sudah seperti rumah sendiri. Di tempat lama, mereka telah mencurahkan cinta, bertumbuh dalam pelayanan, mengenal murid-murid dan rekan kerja layaknya keluarga. Kini, panggilan baru membawa mereka ke tempat yang belum dikenal. Ada yang menyambutnya dengan sukacita, ada pula yang berangkat dengan air mata. Semua merasakan perasaan yang sama: berat meninggalkan kenyamanan yang lama, tetapi mau tidak mau harus pergi ke tempat yang baru. Saya pun pernah mengalami hal serupa. Dalam kegiatan live in sebagai frater di sebuah...

Musa: Pemimpin Yang Sejati

Gambar
Sebuah Refleksi atas teks Bilangan 11:4b-15 Di setiap momen menjelang pemilu atau pilkada, tidak se dikit orang berbondong-bondong mencalonkan diri untuk merebut kekuasaan sebagai pemimpin. Pada saat itu pula, berbagai gagasan diutarakan dan dilempar kepada para pemilih dengan daya tarik yang kuat, dipoles dengan kata-kata memesona. Janji-janji manis tidak pernah absen dari setiap mulut para kandidat. Tak kalah menarik, setiap pasangan calon (paslon) membuat poster-poster besar dengan slogan-slogan yang memukau, seperti “Siap kerja bersama rakyat” atau “Mendengarkan suara rakyat.” Begitu indah bait-bait narasi itu hingga rakyat pun kebingungan harus memilih siapa, sebab semua janji terdengar mengesankan. Setelah pemilihan usai, bersyukurlah bagi yang menang, dan tersungkurlah yang kalah. Namun kerap kali, saat seseorang resmi menjadi pemimpin, narasi-narasi indah yang dulu diperdengarkan perlahan memudar. Rakyat mulai lelah menagih janji yang tak kunjung ditepati. Tak jarang kita...

Jatuh Cinta Dengan Milik Tuhan

Gambar
  Aku, yang tak pernah bersahabat dengan perjumpaan, kini terpaksa menghadapi denyut aneh di hatiku. Khatulistiwa rasa, tempat di mana senyumnya menghangatkan jiwa, meski dia hadir dalam misteri. Ini adalah sebuah pelayaran tanpa kompas, di antara kebencian dan kerinduan. Ada rasa yang terjalin di antara dua hati, tak bisa kupungkiri. Meski pernah ada jejak kehilangan yang menggores luka, dia datang membawa seberkas harapan. Namun, benarkah semua laki-laki itu sama? Dengan senyum manis dan langkah ringan, ia melintas di hidupku, mengingatkan pada semua rasa yang pernah menyakitkan. Tapi tidak, dia bukan sekadar bayangan. Dia adalah misteri yang membangkitkan rindu mendalam, seakan Tuhan menaruhnya di sini untuk menyembuhkan segala duka. Kisahku, yang terjalin dalam kehadirannya, terhampar dalam narasi waktu. Di antara riuh dan gemuruh, aku menemukan kenyamanan. Dalam percakapan yang ringan, aku ceria, seolah dunia milik kami berdua. Satu kebetulan indah: kami berdua merangkai k...

Doa Enu

Gambar
  Malam begitu sepi. Tidak ada suara yang menemani waktu malam ini. Hanya seberkas cahaya yang muncul di balik pohon angsono yang daunya gugur di bulan Juli. Butir-butir rosario ku genggam erat, menghiasi setiap tapak kakiku menuju gua Maria. Ini adalah kebiasaanku—kami para anak seminari—setelah makan malam, kami mengambil waktu pribadi untuk mendaraskan doa rosario. Kami percaya bahwa kekuatan dari Sang Bunda mampu menjawab setiap kegelisahan hidup. Malam seolah-olah bercerita pada angin tentang anak manusia yang terus berharap dan bertekuk. Aku merasakannya. Setiap langkahku seperti mengetuk pintu langit, seolah menyampaikan bahwa ada seseorang di bumi yang datang membawa gundah. Malam berbisik lembut, menyambutku, menenangkan. Kata-kata Kitab Suci terlintas begitu nyata: “Datanglah kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan.” Langkahku terhenti saat sampai di depan gua. Nyala lilin-lilin tak pernah padam, memantulkan cahaya yang membuat waj...

Nunuh Amasat; Kabar Yang Hilang

Gambar
Malam kembali mengetuk jendela, membawa dingin yang menceritakan kehilangan— sejak kau pergi minggu lalu, dan tak satu pun kabar menyusul langkahmu. Katamu: "Aku berada di Nunuh Amasat, tempat sunyi bersemayam. Di sana, hanya detik-detik waktu yang mendesah seperti Firdaus yang pelan-pelan dinanti." Tapi malam semakin dingin, dan kabarmu membeku bersama embun yang jatuh tanpa suara. Katamu lagi: "Sabarlah sebentar, aku akan kembali..." Tapi sebentar itu kini terasa seperti musim yang tak pernah datang kembali. Aku duduk di ruang tunggu— menanti pesan yang tak kunjung tiba. Hanya malam yang berbisik lembut, "Pergilah... kini ia semakin menjauh." Di atas Nunuh Amasat, kau membuka buku harianmu— dan menulis jejak-jejak sunyi dengan tangan yang menari di antara waktu. Pesanmu hanya satu, "Aku akan kembali. Sabarlah sebentar." Namun malam pun berlalu, dan katamu, dan janjimu, sepertinya hanyut, bersama derasnya Kali Noelmina— tempat di m...

Surat (suci) Lee-wuun

Gambar
Tak terdengar suara jangkrik diujung waktu. Sunyi senyap mendiami jiwa para penanti malaikat. Kini tepatnya 20 Juli 96, suara tangisan bayi munggil terdengar di semesta. Sorak riang para penanti, disiap lampin membalut tubuh. Ia cantik bak putri raja, nan munggil. Sunyi itu terbongkar suara riak anak manusia yang menjelajahi semesta. Semesta sambut gembira, menggema di seluruh angkasa tanah Timor. Bukan kebetulan, namun kepastian adalah bahagia menyambutnya. Dibalik tirai yang hampir kusam itu, wajah sang bunda tersenyum lega menghilang perih. Disamping Bunda, tampak wajah ayah membalut senyum lagi haru. “ia cantik seperti bundanya”, kata ayah coba mengoda sang bunda. Dibalik tirai itu kebahagiaan tak terukur dan tak terselami oleh kata bahasa apapun. Ia sang malaikat yang belum tahu dan mengerti sebuah kehadiran, hanya sajak-sajak bunyi yang tak dapat di mengerti oleh semesta. Eaeaeaeaeaeaeaeaeaea……suara itu membubung dikala ia lapar. **** Waktu berlalu begitu cepat. Tak t...

Tuhan Tak Pernah Gagal

Gambar
   (Mungkin anda pernah gagal memilih dan mencintai, Namun Tuhan tidak pernah gagal memilih dan mencintai anda) Dalam linimasa kehidupan, ruang dan waktu menjalin benang-benang peristiwa—masa lalu yang telah pergi, masa kini yang sedang dibentuk, dan masa depan yang menanti untuk dijalani. Di antaranya, ada “ proses menjadi” , yang sering tak mudah walau kadang kala diterpa angin dan membuat hidup terombang-ambing. Namun semuanya itu bukan sia-sia—melainkan tenunan makna yang suatu hari akan disebut: sejarah hidup. Sejarah hidup itu berasal dari DIA dan bermuara pada DIA. Kadang aku tak seirama pada jalanNya, namun Ia tetap setia, menulis hidupku dalam bingkai pengharapan. Satu demi satu peristiwa dijahit, meski tak selalu rapi, bahkan sering patah-patah seperti huruf-huruf pada halaman buku yang akan disebut: perjalanan seorang murid. Memang patut aku akui bahwa jalan bersama Tuhan akan menjadi indah ketika diuji, ditantang dan akhirnya disertai air mata yang menjadi ...